JAKARTA, CS – Beban pembiayaan penyakit kronis masih menjadi tantangan besar dalam penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Sepanjang tahun 2025, BPJS Kesehatan mencatat pengeluaran sebesar Rp50,2 triliun untuk menangani 59,9 juta kasus penyakit kronis.

Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah, mengatakan secara keseluruhan BPJS Kesehatan telah membayarkan biaya pelayanan kesehatan sebesar Rp190,3 triliun sepanjang 2025, mencakup layanan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) hingga pelayanan rujukan di rumah sakit.

“Dari jumlah tersebut, lebih dari Rp50,2 triliun digunakan untuk membiayai pelayanan penyakit kronis seperti jantung, gagal ginjal, kanker, stroke, sirosis hati, thalassemia, dan hemofilia,” ujar Rizzky, Jumat (23/01/2026).

Ia menjelaskan, penyakit jantung menjadi penyumbang klaim tertinggi dengan total 29,7 juta kasus dan biaya mencapai Rp17,3 triliun. Posisi kedua ditempati gagal ginjal dengan 12,6 juta kasus dan biaya Rp13,3 triliun, disusul kanker dengan 7,2 juta kasus yang menelan biaya Rp10,3 triliun.

Rizzky menilai tren pembiayaan penyakit kronis terus meningkat dari tahun ke tahun. Padahal, sebagian besar penyakit tersebut berkaitan erat dengan gaya hidup dan dapat dicegah sejak dini.

“Penyakit-penyakit ini sebenarnya bisa ditekan risikonya jika masyarakat konsisten menerapkan pola hidup sehat,” katanya.

Sebagai langkah promotif dan preventif, BPJS Kesehatan menginisiasi program Gerak 335, yakni aktivitas fisik berupa jalan santai selama tiga menit, dilanjutkan jalan cepat tiga menit, dan diulang sebanyak lima kali hingga mencapai total 30 menit. Aktivitas ini dapat dilakukan kapan saja tanpa memerlukan peralatan khusus.

Selain itu, BPJS Kesehatan juga mendorong masyarakat untuk memanfaatkan fitur Skrining Riwayat Kesehatan melalui Aplikasi Mobile JKN, layanan WhatsApp PANDAWA, website resmi BPJS Kesehatan, maupun langsung di FKTP.

“Prosesnya hanya memerlukan waktu sekitar lima hingga sepuluh menit, tetapi manfaatnya besar untuk mendeteksi risiko penyakit kronis sejak dini,” jelas Rizzky.

Sementara itu, Guru Besar Ilmu Gizi Poltekkes Kemenkes Jakarta II, Prof. Trina Astuti, menekankan pentingnya pencegahan karena penyakit kronis umumnya memerlukan pengobatan jangka panjang.

Menurutnya, penerapan pola makan bergizi seimbang, istirahat cukup, aktivitas fisik, serta pengelolaan stres harus menjadi kebiasaan sehari-hari masyarakat.

Menjelang peringatan Hari Gizi Nasional ke-66 pada 25 Januari, Prof. Trina mengingatkan empat pilar gizi seimbang, yakni mengonsumsi makanan beragam, membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat, aktif bergerak secara fisik, serta menjaga berat badan ideal.

Ia juga menekankan pentingnya panduan “Isi Piringku” sebagai acuan konsumsi harian, dengan komposisi setengah piring sayur dan buah, seperempat karbohidrat, serta seperempat protein.

Selain itu, masyarakat diimbau membatasi konsumsi gula maksimal empat sendok makan per hari, garam satu sendok teh, dan lemak lima sendok makan, serta membiasakan membaca label gizi pada kemasan makanan.

“Pencegahan penyakit kronis dimulai dari kebiasaan kecil sehari-hari, mulai dari isi piring, aktivitas fisik, hingga memantau berat badan secara rutin,” tutup Prof. Trina.*

Editor: Yamin