JAKARTA, CS – Nilai tukar rupiah melemah hingga menyentuh level terendah sepanjang sejarah di tengah tekanan global yang dipicu ketegangan geopolitik dan penguatan dolar Amerika Serikat.
Pada perdagangan Kamis (23/4/2026), rupiah sempat menyentuh level Rp17.310 per dolar AS, yang menjadi posisi terlemah dalam sejarah perdagangan mata uang tersebut. Sementara pada Jumat (24/4/2026), rupiah bergerak sedikit menguat ke kisaran Rp17.280 per dolar AS.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini berada di bawah nilai fundamental atau dalam kondisi undervalued, meskipun kondisi ekonomi domestik dinilai tetap solid.
“Kami tegaskan bahwa nilai tukar rupiah sekarang ini telah undervalued dibandingkan dengan fundamental,” ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG), Rabu (22/4/2026) lalu.
Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 4,75 persen untuk ketujuh kalinya secara berturut-turut dalam RDG 21–22 April 2026.
Berdasarkan data Bank Indonesia, rupiah tercatat berada di level Rp17.140 per dolar AS pada 21 April 2026, melemah 0,87 persen dibandingkan akhir Maret 2026. Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak dunia, penguatan dolar AS, serta meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat yang menarik arus modal keluar dari negara berkembang.
Meski demikian, BI menilai fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 di kisaran 4,9–5,7 persen, inflasi 1,5–3,5 persen, serta defisit transaksi berjalan 0,5–1,3 persen terhadap PDB. Cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar 152,2 miliar dolar AS pada akhir Maret 2026.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta menyesuaikan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menarik aliran modal masuk.
Namun, sejumlah ekonom menilai tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi faktor eksternal yang kuat. Ekonom Achmad mengatakan kondisi fundamental yang baik belum cukup untuk langsung mendorong penguatan rupiah di tengah ketidakpastian global.
“Kondisi fundamental yang baik seperti pertumbuhan ekonomi di level 5 persen dan inflasi yang terkendali ternyata tidak serta merta menjadi jaminan instan bagi penguatan rupiah di hadapan pasar global,” ujarnya. *

