KORSEL, CS – Indonesia terus memperluas kerja sama pertahanan dengan sejumlah negara mitra strategis, termasuk Korea Selatan dan Inggris, dalam upaya modernisasi militer di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Pakar pertahanan dan hubungan internasional Binus University, Curie Maharani, menilai kerja sama tersebut memberikan sejumlah keuntungan bagi Indonesia, mulai dari akses teknologi persenjataan hingga pengembangan kecerdasan buatan (AI) di sektor pertahanan.

Hal itu disampaikan dalam acara pembukaan Lomba Menulis yang diselenggarakan Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS) bertema “Kemitraan Strategis RI-Korsel 2026 Pertahanan, AI, dan Pengembangan SDM”, Jumat (24/4).

Curie menyebut sedikitnya terdapat tiga manfaat utama dari kerja sama Indonesia dengan Korea Selatan. Pertama, Indonesia berpeluang memperoleh akses teknologi standar Barat melalui Korea Selatan yang dapat meningkatkan kualitas alutsista serta sumber daya manusia pertahanan.

Kedua, Korea Selatan sebagai salah satu kekuatan industri pertahanan dunia membutuhkan rantai pasok yang kompetitif, yang dinilai dapat diisi oleh Indonesia. Ketiga, kerja sama tersebut membuka ruang pengembangan pemanfaatan kecerdasan buatan di sektor pertahanan.

Ia juga menyoroti proyek pengembangan pesawat tempur KF-21 Boramae sebagai salah satu bentuk kerja sama strategis yang berkontribusi terhadap penguatan kemandirian industri pertahanan Indonesia.

Penilaian tersebut muncul setelah kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo ke Seoul pada 1 April 2026, yang menghasilkan penandatanganan 10 nota kesepahaman (MoU) senilai 10,2 miliar dolar AS dengan Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung di Blue House.

Kesepakatan itu mencakup berbagai sektor, mulai dari mineral kritis, energi bersih, AI untuk kesehatan, hingga penguatan kerja sama pertahanan termasuk pembangunan galangan kapal. Presiden Lee menyebut kolaborasi tersebut sebagai “model kerja sama industri pertahanan internasional berkelas dunia”.

Selain dengan Korea Selatan, Indonesia juga memperkuat kemitraan pertahanan dengan Inggris. Pada Januari 2026, Presiden Prabowo dan Perdana Menteri Keir Starmer meresmikan kerja sama strategis yang mencakup empat pilar utama, termasuk bidang pertahanan dan keamanan.

Salah satu program utama adalah Maritime Partnership Programme senilai 4 miliar poundsterling yang mencakup penguatan kemampuan angkatan laut Indonesia serta pembangunan sekitar 1.500 kapal nelayan.

Kedua negara juga telah melaksanakan latihan siber bersama Defence Cyber Marvel 2026 di Jakarta sebagai bagian dari penguatan ketahanan siber. *