CHINA, CS – Impor minyak mentah dan gas alam China turun tajam pada April 2026 seiring hampir sepenuhnya tertutupnya Selat Hormuz sejak akhir Februari, yang memutus jalur energi utama bagi negara pengimpor minyak terbesar di dunia.
Meski demikian, data perdagangan yang dirilis Administrasi Umum Bea Cukai China pada Sabtu menunjukkan sektor perdagangan negara tersebut masih bertahan kuat. Ekspor China tercatat naik 14,1 persen secara tahunan, melampaui perkiraan para ekonom.
Penurunan impor minyak mentah sebelumnya telah diprediksi para analis setelah data Maret menunjukkan impor hanya turun 2,8 persen menjadi 49,98 juta ton. Lembaga riset Energy Aspects memperkirakan impor April turun menjadi sekitar 9,5 juta barel per hari, jauh di bawah rata-rata kebutuhan domestik China.
Penurunan itu dipicu berkurangnya pasokan sekitar 1,7 juta barel per hari dari kawasan Teluk Timur Tengah serta menurunnya aliran minyak Rusia melalui jalur laut.
Perusahaan konsultan energi Wood Mackenzie menyebut sekitar 55 persen impor minyak mentah China dan 30 persen impor gas alam cair atau LNG melewati Selat Hormuz. Kondisi tersebut membuat dampak penutupan jalur pelayaran itu sulit dihindari setelah kapal tanker yang berangkat sebelum akhir Februari selesai membongkar muatan.
Gangguan distribusi energi itu dipicu kampanye militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari. Konflik tersebut secara efektif menutup akses perdagangan di Selat Hormuz bagi kapal dagang.
Lebih dari dua bulan setelah konflik berlangsung, sekitar 2.000 kapal masih tertahan di kawasan Teluk Persia menunggu izin melintas. Pemerintah Amerika Serikat menyatakan proses pembersihan ranjau laut yang diduga dipasang Iran dapat memakan waktu hingga enam bulan.
Di tengah tekanan impor energi, kinerja perdagangan China secara keseluruhan tetap menunjukkan pertumbuhan. Selain ekspor yang meningkat 14,1 persen, impor dari Amerika Serikat juga naik kembali sebesar 11,3 persen pada April.
Kenaikan impor pada awal tahun turut dipengaruhi lonjakan harga energi dan komoditas global. Pada Maret, impor China tercatat melonjak 27,8 persen, menjadi pertumbuhan tercepat sejak November 2021.
China juga dinilai memiliki perlindungan cadangan energi yang besar. Badan Informasi Energi Amerika Serikat memperkirakan China telah menimbun hampir 1,4 miliar barel minyak mentah hingga Desember 2025, dengan rata-rata penambahan 1,1 juta barel per hari sepanjang tahun lalu.
Krisis energi akibat perang juga mendorong pertumbuhan industri kimia berbasis batu bara di China. Sejumlah perusahaan sektor tersebut dilaporkan mengalami kenaikan nilai saham hingga 30 persen sejak konflik dimulai, sementara belasan proyek konversi batu bara menjadi gas tengah dibangun atau direncanakan di berbagai wilayah negara itu. *

