PARIS, CS – Gelombang panas ekstrem yang melanda Prancis mulai mengganggu aktivitas masyarakat. Pemerintah menutup sejumlah sekolah, membuka pusat-pusat pendinginan, serta meningkatkan layanan darurat setelah suhu di berbagai wilayah menembus 40 derajat Celsius pada puncak musim panas Juni 2026.
Otoritas meteorologi Prancis menetapkan puluhan departemen dalam status siaga merah dan oranye menyusul cuaca ekstrem yang memicu risiko kesehatan bagi masyarakat, terutama lansia, anak-anak, dan kelompok rentan.
Selain mengganggu aktivitas pendidikan, suhu tinggi juga berdampak pada layanan transportasi dan pelayanan publik. Sejumlah perjalanan mengalami kendala akibat panas ekstrem, sementara rumah sakit dan layanan gawat darurat mencatat lonjakan pasien yang mengalami dehidrasi, kelelahan akibat panas (heat exhaustion), hingga sengatan panas (heat stroke).
Gelombang panas juga dilaporkan menyebabkan korban jiwa. Otoritas setempat menyebut meningkatnya insiden yang berkaitan dengan suhu ekstrem, termasuk kecelakaan saat masyarakat berupaya mencari tempat untuk mendinginkan tubuh.
Di tengah kondisi tersebut, beberapa wilayah di Prancis mencatat suhu yang memecahkan rekor. Pissos, di Departemen Landes, menjadi titik terpanas dengan suhu mencapai 44,3 derajat Celsius, sedangkan Bordeaux mencatat sekitar 42,1 derajat Celsius.
Pemerintah Prancis mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan pada siang hari, memperbanyak konsumsi air, serta memanfaatkan pusat pendinginan yang telah disiapkan hingga gelombang panas mereda.
Fenomena cuaca ekstrem ini kembali menjadi peringatan mengenai meningkatnya intensitas gelombang panas di Eropa dalam beberapa tahun terakhir. Para ilmuwan menilai perubahan iklim berkontribusi terhadap frekuensi dan durasi cuaca panas ekstrem yang semakin sering terjadi. *


