TORONTO, CS – Peluit panjang berbunyi. Para pemain Portugal merayakan kemenangan, sementara di sisi lain Luka Modric berdiri sejenak menatap tribun. Kekalahan 1-2 dari Portugal pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 bukan hanya mengakhiri langkah Kroasia, tetapi juga menutup perjalanan internasional salah satu gelandang terbaik sepanjang sejarah sepak bola.

Selama hampir dua dekade, Modric adalah wajah sepak bola Kroasia. Sejak menjalani debut pada 2006, ia tumbuh menjadi kapten, pemimpin, sekaligus simbol kebangkitan Vatreni di panggung dunia. Di Toronto, kisah itu akhirnya mencapai halaman terakhir.

Modric kembali dipercaya mengawal lini tengah Kroasia di usia 40 tahun. Sentuhan pertamanya tetap tenang, umpannya masih presisi, dan visinya belum memudar. Namun kali ini, pengalaman tak mampu mengalahkan efektivitas Portugal.

Kroasia sempat menjaga asa ketika Ivan Perisic menyamakan kedudukan. Portugal kemudian kembali unggul lewat penalti Cristiano Ronaldo sebelum Goncalo Ramos memastikan kemenangan. Drama belum usai. Kroasia sempat mencetak gol pada menit-menit akhir, tetapi VAR menganulirnya karena offside. Harapan terakhir pun sirna bersamaan dengan peluit akhir.

Kekalahan itu menjadi penutup karier internasional Modric yang telah mencatatkan lebih dari 180 penampilan bersama Kroasia. Angka yang hanya bisa dicapai oleh segelintir pemain dalam sejarah sepak bola dunia.

Namun warisan Modric tak pernah sekadar soal jumlah pertandingan.

Saat ia memulai karier internasional pada 2006, Kroasia belum pernah mencapai final Piala Dunia. Bersama Modric sebagai motor permainan, negara berpenduduk kurang dari empat juta jiwa itu menjelma menjadi kekuatan yang disegani. Final Piala Dunia 2018, peringkat ketiga pada edisi 2022, hingga berbagai pencapaian di level Eropa menjadi bukti bahwa Kroasia mampu bersaing dengan negara-negara besar.

Prestasi individu pun mengikuti. Ballon d’Or 2018 menjadi simbol pengakuan dunia atas kualitasnya, sekaligus memutus dominasi Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo yang menguasai penghargaan tersebut selama satu dekade.

Ironisnya, pertandingan terakhir Modric bersama tim nasional justru berlangsung melawan Ronaldo, sosok yang pernah bertahun-tahun berbagi ruang ganti dan meraih empat gelar Liga Champions bersama Real Madrid. Kali ini, hanya satu yang bisa melanjutkan perjalanan di Piala Dunia.

Bagi Kroasia, kepergian Modric bukan sekadar kehilangan seorang kapten. Mereka kehilangan sosok yang selama bertahun-tahun menjadi penentu ritme permainan, pemimpin di ruang ganti, dan inspirasi bagi generasi penerus seperti Josko Gvardiol, Martin Baturina, hingga Petar Sucic.

Portugal melangkah ke babak berikutnya. Sementara Kroasia pulang dengan kepala tegak, mengantar kepergian pemain terbaik yang pernah mereka miliki.

Trofi Piala Dunia memang tak pernah singgah di tangan Luka Modric. Namun ketika sejarah sepak bola Kroasia ditulis kembali, namanya akan selalu menjadi bab terpanjang. Sebab bagi sebuah negara kecil yang berani bermimpi besar, tak ada sosok yang lebih berjasa daripada sang maestro bernomor punggung 10.*