JAKARTA, CS – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Senin, 26 Oktober 2026. Tekanan geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak dunia, dan sentimen negatif pasar keuangan domestik membayangi pergerakan mata uang Garuda.
Mengutip data Bloomberg, rupiah melemah 5 poin atau 0,03 persen ke level Rp18.085 per dolar AS pada pukul 09.07 WIB. Posisi tersebut turun dari penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp18.080 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi ketika pergerakan mata uang di kawasan Asia cenderung beragam. Baht Thailand melemah 0,05 persen, sedangkan peso Filipina terkoreksi lebih dalam sebesar 0,35 persen.
Sebaliknya, dolar Singapura menguat 0,01 persen dan ringgit Malaysia naik 0,02 persen terhadap dolar AS.
Ketegangan Timur Tengah Dorong Harga Minyak
Salah satu faktor yang membayangi pergerakan rupiah adalah meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Serangkaian serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap Arab Saudi, termasuk fasilitas energi, memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan minyak dunia.
Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent bahkan menyentuh level tertinggi dalam enam bulan terakhir pada Jumat, 23 Oktober 2026. Harga minyak tersebut bertahan di atas US$100 per barel.
Kepala Strategi Lintas Aset LPL Financial, Adam Turnquist, menilai kekhawatiran terhadap gangguan pasokan menjadi salah satu pendorong kenaikan harga minyak.
Kondisi ini turut membayangi perekonomian negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia. Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan biaya impor dan menambah tekanan terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.
Sentimen Pasar Domestik Ikut Membebani
Selain faktor eksternal, rupiah menghadapi tekanan dari sentimen negatif terhadap pasar keuangan domestik.
Sepanjang perdagangan pekan sebelumnya, 19-23 Oktober 2026, rupiah bergerak dalam kisaran Rp17.900 hingga Rp18.080 per dolar AS.
Pergerakan tersebut berlangsung di tengah respons negatif pelaku pasar terhadap sikap Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait pasar saham Indonesia.
Sentimen tersebut menambah tekanan terhadap aset keuangan domestik dan berpotensi memengaruhi keputusan investor asing dalam menempatkan modalnya.
Perkembangan nilai tukar rupiah selanjutnya akan dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global, pergerakan harga minyak, serta respons investor terhadap kondisi pasar keuangan Indonesia.


