PALU, CS – Program Pascasarjana Universitas Tadulako (Untad) untuk pertama kalinya menerapkan sistem Computer-Based Test (CBT) dalam proses seleksi penerimaan mahasiswa baru jenjang magister (S2) dan doktoral (S3).
Kebijakan ini diambil untuk memperluas akses sekaligus meningkatkan efisiensi bagi calon mahasiswa.
Ketua Pelaksana, Prof. Dr. Ir. I Wayan Sudarsana, S.Si., M.Si., mengatakan penerapan CBT dilatarbelakangi tingginya jumlah pendaftar dari luar daerah, seperti Luwuk, Morowali, Gorontalo, hingga luar pulau seperti Bogor dan Kalimantan.
“Karena mayoritas peserta berasal dari luar daerah, kami memutuskan menggunakan sistem tes online agar lebih efisien dan tidak membebani peserta dengan biaya perjalanan,” ujarnya.
Ujian berbasis online tersebut dijadwalkan berlangsung pada 2–3 Mei 2026. Dengan sistem ini, peserta tidak perlu datang langsung ke kampus setelah melakukan pembayaran pendaftaran sehingga dapat menghemat biaya transportasi dan akomodasi.
Pada seleksi kali ini, tercatat 1.136 pendaftar, dengan 723 peserta yang telah menyelesaikan pembayaran dan mengikuti proses seleksi. Antusiasme tinggi terlihat pada sejumlah program studi, termasuk program doktor (S3) Pendidikan yang telah melampaui kuota, serta program Kesehatan Masyarakat yang mencatat lonjakan pendaftar.
Selain itu, peningkatan juga terjadi pada program Magister Kimia yang mengalami kenaikan jumlah peminat dibandingkan tahun sebelumnya.
“Semua ini menunjukkan tren peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. CBT membuka peluang lebih luas bagi calon mahasiswa,” tambahnya.
Proses seleksi dilakukan secara komprehensif melalui Tes Potensi Akademik (TPA), kemampuan Bahasa Inggris, wawancara, serta penilaian portofolio. Wawancara menjadi salah satu aspek penting untuk menilai komitmen dan kesiapan peserta dalam menempuh studi.
Untuk menjaga integritas ujian, panitia menerapkan sistem pengawasan ganda. Peserta diwajibkan menggunakan dua perangkat, yakni satu perangkat utama untuk mengakses sistem CBT dan satu perangkat tambahan melalui aplikasi Zoom guna memantau lingkungan sekitar.
Sebelum ujian dimulai, peserta diminta memastikan ruangan dalam kondisi steril serta mengaktifkan kamera selama ujian berlangsung.
“Dengan dua sistem pengawasan ini, potensi kecurangan dapat diminimalkan secara signifikan,” jelasnya.
Panitia juga telah melakukan berbagai persiapan teknis, termasuk pelatihan penggunaan sistem CBT sejak 26 April serta pendampingan melalui grup komunikasi untuk membantu peserta mengatasi kendala teknis.
Pelaksanaan ujian dijadwalkan pada akhir pekan untuk mengakomodasi peserta yang merupakan pekerja, baik aparatur sipil negara maupun karyawan swasta.
Ke depan, Untad berkomitmen untuk terus menggunakan sistem CBT dalam proses seleksi pascasarjana, dengan harapan sistem ini semakin optimal setelah melalui evaluasi pelaksanaan perdana.
“Walaupun ini adalah pelaksanaan pertama dan masih dalam tahap penyesuaian, kami optimistis ke depan sistem ini akan berjalan lebih baik dan stabil,” tutup I Wayan Sudarsana.*

