BEKASI, CS – Kecelakaan maut terjadi di jalur perkeretaapian Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/04/2026) malam, melibatkan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi dan KRL Commuter Line.

Insiden tersebut menewaskan 15 orang dan menyebabkan 84 lainnya mengalami luka-luka.

Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 20.40-20.57 WIB itu kini tercatat sebagai salah satu kecelakaan perkeretaapian paling serius dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia.

Berdasarkan keterangan Kementerian Perhubungan, kecelakaan bermula dari insiden di perlintasan sebidang Ampera (JPL 85) yang tidak memiliki penjagaan.

Sebuah taksi listrik milik operator Green SM diduga mengalami gangguan dan berhenti di jalur lintasan, yang kemudian tertabrak KRL Commuter Line. Benturan tersebut membuat rangkaian KRL berhenti di area peron Stasiun Bekasi Timur.

Tidak lama berselang, KA Argo Bromo Anggrek yang melaju dari arah barat tidak dapat menghindari tabrakan dan menghantam bagian belakang KRL yang masih berada di jalur.

Seluruh 240 penumpang KA Argo Bromo Anggrek berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat. Namun korban jiwa seluruhnya berasal dari penumpang KRL, terutama di gerbong belakang.

Polda Metro Jaya, Selasa (28/04/2026) mengonfirmasi jumlah korban meninggal dunia mencapai 15 orang, sementara 84 lainnya mengalami luka-luka. Data ini meningkat dari laporan awal PT KAI yang mencatat 14 korban jiwa.

Proses evakuasi dilakukan sepanjang malam oleh tim gabungan dari Basarnas, PMI, TNI-Polri, dan petugas PT Kereta Api Indonesia. Aliran listrik di jalur sekitar lokasi kejadian dipadamkan untuk memudahkan proses penyelamatan korban yang terjebak di dalam gerbong.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyampaikan bahwa evakuasi telah selesai dan saat ini fokus dialihkan pada pemulihan jalur serta sarana prasarana. KAI juga memastikan pemberian santunan serta penanggungan biaya perawatan korban melalui skema asuransi.

Presiden Prabowo Subianto langsung meninjau korban yang dirawat di RSUD Bekasi pada Selasa pagi dan memerintahkan investigasi menyeluruh terhadap penyebab kecelakaan.

Presiden juga menyoroti masih banyaknya perlintasan sebidang tanpa palang pintu dan mendorong percepatan pembangunan flyover di titik rawan kecelakaan.

Sementara itu, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan akan memanggil operator Green SM untuk dimintai keterangan terkait insiden yang diduga menjadi pemicu awal kecelakaan beruntun tersebut.

Pemerintah menegaskan bahwa evaluasi menyeluruh terhadap keselamatan transportasi rel akan menjadi prioritas untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali. *