BEKASI, CS – Kecelakaan maut di jalur perkeretaapian Stasiun Bekasi Timur yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi dan KRL Commuter Line, mendapat perhatian serius pemerintah pusat.
Insiden tersebut menewaskan 15 orang dan menyebabkan 84 lainnya luka-luka.
Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 20.40-20.57 WIB itu tercatat sebagai salah satu kecelakaan perkeretaapian paling serius dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia.
Presiden Prabowo Subianto langsung meninjau korban yang dirawat di RSUD Bekasi pada Selasa (28/04/2026) pagi, dan memerintahkan investigasi menyeluruh untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan.
Presiden juga menyoroti masih banyaknya perlintasan sebidang tanpa palang pintu serta mendorong percepatan pembangunan flyover di titik-titik rawan kecelakaan guna meningkatkan keselamatan transportasi nasional.
Sementara itu, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan akan memanggil operator taksi listrik Green SM untuk dimintai keterangan terkait dugaan pemicu awal insiden beruntun tersebut.
Berdasarkan keterangan Kementerian Perhubungan, kecelakaan bermula dari insiden di perlintasan sebidang Ampera (JPL 85) yang tidak memiliki penjagaan. Sebuah taksi listrik milik Green SM diduga mengalami gangguan dan berhenti di jalur rel, sebelum kemudian tertabrak KRL Commuter Line.
Benturan tersebut menyebabkan rangkaian KRL berhenti di area peron Stasiun Bekasi Timur. Tidak lama berselang, KA Argo Bromo Anggrek yang melaju dari arah barat menghantam bagian belakang KRL yang masih berada di jalur.
Seluruh 240 penumpang KA Argo Bromo Anggrek berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat. Namun, korban jiwa seluruhnya berasal dari penumpang KRL, terutama di gerbong belakang.
Polda Metro Jaya, Selasa (28/04/2026) mengonfirmasi jumlah korban meninggal dunia mencapai 15 orang, sementara 84 lainnya mengalami luka-luka, meningkat dari data awal PT KAI yang mencatat 14 korban tewas.
Proses evakuasi dilakukan sepanjang malam oleh tim gabungan dari Basarnas, PMI, TNI-Polri, serta petugas PT Kereta Api Indonesia. Aliran listrik di jalur sekitar lokasi kejadian dipadamkan untuk memudahkan penyelamatan korban yang terjebak di dalam gerbong.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyampaikan bahwa evakuasi telah selesai dan saat ini fokus diarahkan pada pemulihan jalur serta sarana prasarana perkeretaapian. KAI juga memastikan penanganan korban dilakukan melalui skema asuransi dan santunan.
Pemerintah menegaskan bahwa evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan transportasi rel akan menjadi prioritas untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali. *

