JAKARTA, CS – Mata uang Rupiah menunjukkan tajinya pada penutupan perdagangan Selasa (13/10/2026). Sempat tertekan di zona merah sejak awal perdagangan dibuka, rupiah berhasil membalikkan keadaan dan mengakhiri sesi di zona hijau terhadap dolar AS.

Merujuk pada data Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,06 persen ke posisi Rp17.885 per dolar AS. Angka ini sedikit membaik bila dibandingkan dengan harga penutupan pada hari sebelumnya yang berada di level Rp17.895 per dolar AS.

Pergerakan nilai tukar sepanjang hari memang diwarnai dinamika yang cukup ketat. Saat bel pembukaan dibunyikan, rupiah sempat merosot hingga menyentuh Rp17.920 per dolar AS dan merangkak melemah ke level Rp17.940 per dolar AS. Kendati demikian, gelombang tekanan tersebut perlahan mereda menjelang sore hari hingga mata uang domestik mampu menguat secara bertahap.

Di sisi lain, indeks dolar AS yang mengukur performa greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau melemah 0,28 persen ke posisi 102,297 pada pukul 15.00 WIB.

Pergerakan rupiah kali ini dipengaruhi oleh kombinasi sentimen internal dan eksternal. Dari dalam negeri, fokus pelaku pasar tertuju pada ketegasan Bank Indonesia mengenai independensi kebijakan moneter, terutama setelah pernyataan resmi dari Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti.

“Ketika kami hendak mengambil keputusan kebijakan, baik menaikkan atau menurunkan suku bunga maupun menggunakan insentif lainnya, kami memiliki kewenangan penuh untuk mengambil keputusan tersebut,” tegas Destry dalam wawancaranya bersama awak media.

Pernyataan ini dinilai krusial bagi pasar finansial. Pasalnya, kepastian independensi Bank Indonesia dalam menetapkan arah suku bunga menjadi benteng utama dalam menjaga kepercayaan investor asing terhadap stabilitas aset berdenominasi rupiah.

Sementara itu dari faktor global, pasar masih bersikap hati-hati menantikan rilis data inflasi konsumen atau Consumer Price Index Amerika Serikat periode September 2026. Laporan inflasi tersebut akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve ke depan.

Apabila angka inflasi AS berada di atas ekspektasi, sentimen suku bunga tinggi dalam jangka waktu lama diprediksi kembali menguat dan memicu keperkasaan dolar AS. Sebaliknya, penurunan inflasi akan memberikan ruang napas yang lebih lega bagi mata uang negara berkembang seperti rupiah.*