Berpikir Praktis : Trilogi Persepsi

“Kalau bisa dipercepat buat apa berliku-liku”. Demikian pikiran praktis Ahmad Ali. Tokoh nasional yang gandrung dengan kebaruan ini, selalu identik dengan gagasan-gagasan unik.

Politik adalah sarana pengabdian. Delapan tahun silam ia pernah berujar,”manfaatkan kekuasaan itu bermanfaat bagi orang banyak. Bagi sebagian orang, mungkin ini dianggap sentilan biasa saja.

Bacaan Lainnya

Untuk mengerti apa yang diucapkan oleh Ahmad Ali. Mulailah periksa dari terobosan-terobosan politiknya.

Praktis

Rekam jejak Ahmad Ali memang tidak sama dengan kisah hidup Anies Baswedan atau Ridwan Kamil. Keduanya besar dari episentrum lokus kekuasaan dan kebudayaan Republik Indonesia. Sedang Ahmad Ali, memulai bangun mimpi dari “kampung”.

Baca Juga :  Pendidikan Gotong Royong

Tapi tentu saja tidak kampungan. Pikirannya yang bernas dan praktis semula dikira biasa saja. Kalau ingin jujur, Ahmad Ali lah yang merintis praktik jaring aspirasi lebih dari empat Kabupaten dalam satu periode reses.

Memang langka, reses saja barangkali sesuatu yang asing di kala itu. Padahal, reses adalah tugas konstitusi. Kunci manifestasi dari trilogi fungsi anggota DPR RI. “Reses itu tugas konstitusi”, katanya kala itu.

Tiap periode anggaran, orang lain mungkin berlibur. Tapi Ahmad Ali justru pulang dapil. Ia akan “membakar” kulitnya di atas speed melintasi lautan, menyambangi penduduk pulau. Kadang juga memeras keringat berpanas ria dialog dengan petani pedesaan.

Baca Juga :  Kudeta dan Demokrasi

Sejak ia membudayakan reses sebagai media komunikasi pembangunan. Tercatat lebih dari 10.000 kilometer jarak tempuh perjalanan. Pikiran praktis itu menjadi inspirasi banyak orang. Kelak, reses bukan lagi barang asing, tapi merupakan kewajiban bagi kader NasDem.

Trilogi Persepsi

Ia memang praktis dalam berfikir tapi bukan berarti tidak mendalam. Hanya saja, ia menghindari pengambilan keputusan bertele-tele. Ia pengagum desain kesempurnaan tapi sangat disiplin dalam hasil.

Mengikuti jejaknya, berarti anda harus sanggup berifkir cepat dan detail. Ia menaruh teori dalam uji tindakan praktis. Rupanya, hal itu sungguh berguna.

Baca Juga :  Meneguhkan Spirit Pancasila

Berfikir praktis untuk mencapai tujuan bukan berarti meninggalkan substansi. Ahmad Ali menempatkan prioritas percobaan gagasan untuk menilai sebuah kapasitas substansi.

Dan berhasil, ia menjadi tokoh yang bisa mengakselerasi kebijakan pro rakyat sekaligus membesarkan cita-cita kepartaian. Kenang masa delapan tahun silam, kini di tunai semesta kader NasDem Sulteng.

Berpikir praktis sebagai inspirasi telah menempatkan NasDem Sulteng dalam tiga persepsi umum;

NasDem Rumah gagasan; NasDem Peduli; dan NasDem Pemenang!.

Penulis : Andika

Pos terkait