Hari itu, di kawasan yang sunyi dan berdebu, tak ada yang menyangka bahwa sebuah tragedi akan menyelimuti hati banyak orang. Marjan Daud, seorang pekerja biasa di PT OSMI, bagian dari PT IMIP, menjalani rutinitas harian yang tak pernah ia tahu akan menjadi langkah terakhirnya.
Kecelakaan itu terjadi begitu cepat, begitu tak terduga, di tengah hiruk-pikuk mesin dan kegiatan produksi yang tak pernah berhenti. Pekerjaan yang dijalani dengan penuh harapan kini berubah menjadi kenangan tragis yang menyisakan luka mendalam.
Marjan, yang sehari-harinya dikenal sebagai anggota Serikat Pekerja SPIM-KPBI, tidak hanya sekadar seorang buruh. Ia adalah simbol perjuangan, pembawa suara bagi mereka yang sering kali tak didengar. Pagi yang cerah di 16 Februari 2025, saat semua orang sibuk dengan kegiatannya, Marjan melakukan tugasnya dengan tekun pembersihan HB yang mengeras di londer, jalur cairan berbahaya yang telah lama menemani kehidupan mereka.
Namun, takdir berkata lain. Tangan Marjan yang dengan hati-hati mendorong cairan berat itu tanpa sengaja terperangkap. Londer yang seharusnya tak lebih dari sekadar alat produksi, tiba-tiba menjadi ancaman bagi hidupnya. Beban berat yang tergelincir itu jatuh menimpa kepalanya, merenggut nyawa pekerja yang begitu banyak memberikan dedikasi kepada perusahaan yang menjadi tempat ia mencari nafkah.
Waktu seolah berhenti. Ketika insiden itu terjadi, tak hanya mesin yang terhenti. Ada harapan yang terhenti, ada suara yang terdiam, ada keluarga yang merasakan kehilangan mendalam. Namun, yang lebih memilukan, beberapa jam setelah kejadian itu, roda produksi berputar lagi seolah tak ada yang terjadi.
Komang Jordi Segara, Ketua Harian SPIM-KPBI, merasa bahwa apa yang terjadi pada Marjan bukan sekadar kecelakaan biasa.
Menurutnya, ini adalah tragedi yang tak terelakkan karena lemahnya sistem Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) yang ada.
“Buruh ini bukan mesin. Mereka punya jiwa, punya keluarga, dan hak untuk bekerja dalam lingkungan yang aman,” kata Komang dengan penuh emosional.
Begitu banyak pertanyaan yang terpendam dalam diri setiap pekerja. Mengapa kecelakaan ini bisa terjadi berulang-ulang? Mengapa tak ada tindakan nyata untuk mengatasi permasalahan yang begitu mendasar? Seperti sebuah luka yang semakin dalam, pertanyaan itu semakin menggema di dalam hati mereka.
Kini, SPIM-KPBI tidak akan tinggal diam. Mereka berjanji untuk memperjuangkan keadilan bagi Marjan, bagi semua pekerja yang selama ini terabaikan. Tanggal 18 Februari 2025, mereka akan turun ke jalan, membawa semangat yang tak pernah padam, menuntut agar sistem K3 diperbaiki dan nyawa pekerja dihargai.
Tapi bagi Marjan, sudah terlambat. Ia tak akan pernah kembali. Namun, perjuangan yang ia titipkan melalui darah dan keringatnya, akan terus hidup.
Setiap langkah yang diambil SPIM-KPBI adalah langkah untuknya, untuk semua buruh yang telah jatuh dan akan jatuh, hingga suatu saat nanti, mereka bisa bekerja dengan aman, tanpa rasa takut, tanpa harapan yang hilang begitu saja.
Semoga Marjan, yang kini telah pergi, menemukan kedamaian di tempat yang lebih baik, sementara kami yang masih di sini, akan terus berjuang dengan tekad yang tak pernah pudar.
Penyulis : Yamin


