POMALA, CS – Perusahaan nikel berkelanjutan, PT Vale Indonesia Tbk, bagian dari Mining Industry Indonesia (MIND ID), mencatatkan penjualan perdana bijih nikel dari proyek Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa.

Capaian tersebut menandai transisi penting dari tahap konstruksi menuju fase operasional yang menghasilkan pendapatan (revenue-generating phase). Penjualan ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global mineral kritis.

Selain menjadi tonggak operasional, penjualan perdana ini dinilai sebagai langkah strategis dalam proses project de-risking, validasi kesiapan sistem produksi, serta penguatan fundamental pertumbuhan jangka panjang perseroan.

Nikel merupakan komponen utama dalam baterai lithium-ion, khususnya untuk katoda berkadar nikel tinggi yang digunakan pada kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi. Seiring percepatan elektrifikasi global dan transisi energi, permintaan nikel diproyeksikan terus meningkat dalam dekade mendatang.

Indonesia sebagai salah satu pemilik cadangan nikel terbesar di dunia memegang peran strategis dalam ekosistem tersebut. IGP Pomalaa menjadi bagian dari agenda hilirisasi nasional untuk meningkatkan nilai tambah domestik melalui integrasi pertambangan dan pengolahan.

Dengan nilai investasi terintegrasi sekitar Rp74,44 triliun atau setara ±US$4,43 miliar, IGP Pomalaa menjadi salah satu proyek strategis yang memperkuat fondasi industri nikel nasional dan meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.

Penjualan perdana dimungkinkan melalui aktivasi area oresell di Pit PB5 dan Pit PB1. Kedua pit tersebut memiliki kapasitas penampungan hingga 4 juta wet metric ton (Mwmt) bijih limonit, memberikan fleksibilitas inventori serta menjamin keberlanjutan suplai menuju fasilitas pengolahan di Pomalaa.

Director and Chief Project Officer PT Vale Indonesia Tbk, Muhammad Asril, menyatakan peresmian area oresell di Pit PB5 dan PB1 merupakan langkah strategis untuk menjaga ritme produksi dan memastikan distribusi material berjalan optimal.

“Dengan dukungan infrastruktur yang terus kami percepat, kami memastikan pencapaian target IGP Pomalaa tetap sejalan dengan prinsip operational excellence dan praktik pertambangan berkelanjutan,” ujar Muhammad Asril, melalui rilisnya, Minggu (1/3/2026).

Kata dia, memasuki Maret 2026, IGP Pomalaa menargetkan produksi sebesar 300.000 ton limonit per bulan atau sekitar 9.677 ton per hari. Strategi ramp-up dilakukan secara bertahap guna menjaga keberlanjutan operasional dan optimalisasi kapasitas produksi.

Hingga Januari 2026, progres konstruksi keseluruhan IGP Pomalaa telah mencapai 65,76 persen. Sementara pembangunan Main Haul Road (MHR) menuju stockpile telah mencapai 40 persen dan ditargetkan memperlancar distribusi material dari area tambang ke fasilitas pengolahan dan pelabuhan.

Perkembangan tersebut dinilai memperkuat efisiensi modal proyek serta meningkatkan visibilitas arus kas jangka menengah dan panjang. Langkah ini juga sejalan dengan strategi hilirisasi nasional yang mendorong integrasi industri dari hulu ke hilir guna menciptakan nilai tambah di dalam negeri.

“Sebagai bagian dari MIND ID, PT Vale berkomitmen untuk menghadirkan pertumbuhan industri nikel yang kompetitif, terintegrasi, dan berkelanjutan serta menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan,” tandasnya. *