POSO, CS – Penunjukan Brigjen. Pol. Nasri Sulaeman sebagai Kapolda baru Sulawesi Tengah (Sulteng) dinilai membawa tantangan besar dalam menjaga stabilitas keamanan, khususnya di wilayah Poso yang pernah menjadi pusat konflik dan radikalisme.

Direktur Civic Education for Democracy and Peace (Cidep) Sulteng, Budiman Maliki, mengatakan keberlanjutan penanganan radikalisme dan terorisme harus tetap menjadi prioritas kepemimpinan baru di tubuh Polda Sulteng.

“Tidak bisa dipungkiri bahwa wilayah Sulteng, khususnya Poso, dalam hampir empat tahun terakhir tingkat peristiwa kekerasan radikalisme dan terorisme mengalami penurunan cukup drastis dibanding sebelumnya,” kata Budiman kepada media, Sabtu (9/5/2026).

Menurutnya, penurunan kasus kekerasan tersebut merupakan hasil kerja kolaboratif antara aparat keamanan, pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan kelompok sipil dalam melakukan pencegahan serta edukasi kepada masyarakat.

“Ini merupakan hasil kolaborasi banyak pihak dalam mencegah dan mengedukasi masyarakat terhadap bahaya radikalisme dan terorisme,” ujarnya.

Meski situasi keamanan dinilai semakin kondusif, Budiman mengingatkan ancaman radikalisme belum sepenuhnya hilang. Ia menilai isu tersebut masih dapat muncul sewaktu-waktu dan berpotensi mengganggu stabilitas keamanan daerah.

Karena itu, Kapolda baru Sulawesi Tengah dituntut memperkuat langkah pencegahan sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian.

Kapolri sebelumnya resmi menunjuk Brigjen Pol Nasri Sulaeman untuk memimpin pengamanan wilayah Sulawesi Tengah. Pergantian pucuk pimpinan di Polda Sulteng itu diharapkan mampu memperkuat penegakan hukum serta menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif.

Selain menjaga stabilitas keamanan, kepemimpinan baru di Polda Sulteng juga dinilai akan diuji dalam menjalankan tugas kepolisian secara profesional, adil, dan humanis di tengah dinamika keamanan daerah. *