IRAN, CS – Harga minyak mentah dunia kembali mengalami kenaikan signifikan setelah ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat meningkat menyusul aksi serangan balasan Teheran terhadap pangkalan militer AS di kawasan Teluk.
Situasi tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global, khususnya di jalur strategis Selat Hormuz.
Pada perdagangan Kamis, harga minyak Brent tercatat naik lebih dari tiga persen hingga menyentuh level US$97 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga menguat di atas US$91 per barel setelah sebelumnya sempat mengalami tekanan tajam akibat optimisme pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai.
Kenaikan harga dipicu pernyataan Korps Garda Revolusi Islam Iran yang mengklaim telah menyerang fasilitas militer Amerika sebagai respons atas operasi militer AS beberapa hari sebelumnya.
Iran juga menyampaikan peringatan bahwa langkah lanjutan dapat dilakukan apabila tekanan militer terus berlanjut.
Sebelumnya, militer Amerika Serikat melancarkan operasi yang disebut sebagai tindakan defensif dengan mencegat sejumlah drone Iran dan menyerang titik kendali drone di wilayah Bandar Abbas, dekat Selat Hormuz.
Washington menegaskan operasi tersebut bertujuan menjaga stabilitas kawasan dan mempertahankan gencatan senjata yang sempat dimediasi Pakistan beberapa bulan lalu.
Ketegangan terbaru ini langsung mengubah sentimen pasar energi global. Pada awal pekan, harga minyak sempat turun tajam setelah muncul sinyal positif dari proses diplomasi antara kedua negara. Namun eskalasi konflik kembali memunculkan kekhawatiran terhadap gangguan distribusi minyak dunia.
Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena jalur tersebut merupakan salah satu rute perdagangan minyak terpenting di dunia. Gangguan aktivitas pelayaran di kawasan itu dinilai dapat mempengaruhi pasokan global dan mendorong kenaikan harga energi dalam jangka pendek maupun menengah.
Sejumlah lembaga keuangan internasional mulai merevisi proyeksi harga minyak untuk tahun mendatang. HSBC, misalnya, menaikkan perkiraan rata-rata harga Brent tahun 2026 menjadi US$95 per barel dengan mempertimbangkan potensi terganggunya distribusi minyak secara berkepanjangan di kawasan Teluk.
Di sisi lain, Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa cadangan minyak global terus mengalami penurunan cepat dalam beberapa bulan terakhir. Dalam laporan terbarunya, IEA mencatat penyusutan cadangan ratusan juta barel hanya dalam dua bulan, sementara cadangan strategis Amerika Serikat juga terus berkurang akibat pelepasan pasokan untuk menahan lonjakan harga.
Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa kapasitas cadangan energi global memiliki batas dan tidak dapat terus digunakan dalam waktu panjang tanpa risiko terhadap ketahanan pasokan dunia.
Dengan situasi geopolitik yang masih belum stabil dan jalur distribusi energi utama berada dalam tekanan, pelaku pasar diperkirakan akan terus memantau perkembangan konflik Iran-AS dalam beberapa pekan ke depan. *


