BEIRUT, CS – Gelombang serangan drone Israel di sejumlah wilayah Lebanon selatan kembali menimbulkan korban jiwa, termasuk warga sipil, meskipun kesepakatan penghentian serangan yang dimediasi Amerika Serikat baru saja diumumkan beberapa jam sebelumnya.
Sedikitnya delapan orang dilaporkan tewas dalam serangan pada Selasa (waktu setempat), termasuk seorang ayah dan dua anaknya yang ditembak saat berada di dalam kendaraan.
Insiden ini memicu sorotan internasional karena terjadi di tengah klaim adanya kesepakatan untuk menurunkan eskalasi konflik antara Israel dan Hizbullah.
Selain korban sipil, tentara Lebanon juga dilaporkan menjadi sasaran serangan drone di jalan antara Habboush dan Deir al-Zahrani, kawasan Nabatieh. Dua prajurit mengalami luka sedang. Hingga kini, militer Israel belum memberikan keterangan resmi terkait serangan tersebut.
Serangan terbaru ini terjadi tidak lama setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa Israel dan Hizbullah telah menyepakati penghentian saling serang.
Dalam kesepakatan yang diklaim dimediasi Washington, Israel disebut berkomitmen tidak mengirim pasukan ke Beirut, sementara Hizbullah sepakat menghentikan tembakan ke wilayah Israel.
Namun di lapangan, laporan dari kantor berita resmi Lebanon menyebutkan bahwa serangan udara Israel masih terus berlangsung hingga Senin malam, bahkan setelah pengumuman tersebut disampaikan ke publik.
Kondisi ini menambah panjang daftar pelanggaran terhadap kesepakatan yang sebelumnya telah disepakati melalui mediasi internasional. Sejak gencatan senjata awal yang difasilitasi Amerika Serikat mulai berlaku pada 17 April, eskalasi kekerasan dilaporkan tetap terjadi secara berulang.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sedikitnya 608 orang tewas di Lebanon sejak periode gencatan senjata tersebut, sementara Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut total korban jiwa sejak awal Maret telah melampaui 3.400 orang.
Di tengah meningkatnya korban sipil, sejumlah negara mulai menyuarakan keprihatinan. Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot menegaskan tidak ada alasan yang dapat membenarkan kelanjutan operasi militer Israel di Lebanon maupun perluasan pendudukan wilayah.
Prancis bahkan menggelar pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB untuk membahas eskalasi konflik tersebut. Duta Besar Prancis untuk PBB, Jérôme Bonnafont, memperingatkan bahwa perluasan operasi militer Israel berpotensi menjadi “kesalahan strategis besar”.
Di sisi lain, Israel menyatakan bahwa operasi militernya menyasar infrastruktur Hizbullah. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengonfirmasi adanya komunikasi dengan Presiden Donald Trump, namun menegaskan bahwa percakapan tersebut bukan bentuk penahanan diri, melainkan peringatan bahwa Israel akan melancarkan serangan ke Beirut jika serangan terhadap wilayahnya tidak dihentikan.
Sementara itu, proses diplomatik antara Israel dan Lebanon yang dimediasi Amerika Serikat dijadwalkan berlanjut pada 2 hingga 3 Juni, di tengah situasi keamanan yang masih terus memburuk di lapangan. *


