Warning: Undefined variable $args in /home/channels/public_html/wp-content/themes/satuwp/inc/shortcode-bacajuga.php on line 56

Warning: Undefined variable $args in /home/channels/public_html/wp-content/themes/satuwp/inc/shortcode-bacajuga.php on line 56

Piala Dunia 2026 akan selalu dikenang sebagai panggung para superstar. Kylian Mbappe kembali tampil memukau, Lionel Messi menulis bab terakhir yang cukup membanggakan bersama Argentina, sementara Spanyol akhirnya mengangkat trofi dunia untuk kedua kalinya dalam sejarah.

Namun, turnamen sebesar ini tidak pernah hanya dimenangkan oleh para pencetak gol terbanyak atau nama-nama terbesar. Di balik setiap perjalanan luar biasa, selalu ada pemain yang bekerja dalam senyap. Mereka jarang menghiasi sampul media, tetapi menjadi alasan mengapa timnya mampu melangkah jauh.

Berikut tujuh pemain yang layak disebut sebagai sosok paling underrated sepanjang Piala Dunia 2026.

1. Marc Cucurella (Spanyol)

Bek yang Menghapus Sisi Lemahnya Sendiri

Dua tahun lalu, banyak orang masih mempertanyakan mengapa Luis de la Fuente begitu mempercayai Marc Cucurella.

Kini semua keraguan itu sirna.

Mantan bek kiri Chelsea yang baru merampungkan kepindahannya ke Real Madrid tersebut berkembang menjadi salah satu pemain paling konsisten sepanjang turnamen. Ia bukan sekadar aktif membantu serangan, tetapi juga nyaris tidak pernah kehilangan duel bertahan.

Saat banyak perhatian tertuju kepada Lamine Yamal, Nico Williams, hingga Rodri, Cucurella diam-diam menjadi fondasi yang membuat sistem Spanyol bekerja sempurna.

Spanyol hanya kebobolan sekali sepanjang turnamen. Angka tersebut tidak hanya lahir dari kualitas bek tengah, tetapi juga disiplin seluruh lini pertahanan yang diawali oleh Cucurella di sisi kiri.

2. Marc Guéhi (Inggris)

Sang Penjaga yang Akhirnya Mendapat Panggung

Nama Marc Guéhi memang sudah dikenal di Premier League.

Namun, Piala Dunia 2026 membuat seluruh dunia sadar betapa lengkapnya kualitas bek milik Inggris tersebut.

Ia berkali-kali menjadi pemain yang membersihkan kesalahan rekan setimnya, memenangi duel satu lawan satu, hingga sukses meredam penyerang-penyerang elite.

Meski Inggris gagal mencapai final, performa Guéhi nyaris tidak pernah mengecewakan. Ia menjadi simbol kokohnya lini belakang Three Lions sepanjang turnamen.

3. Sander Berge (Norwegia)

Sang Pengatur Ritme yang Tak Pernah Mencari Sorotan

Di tim yang dihuni Erling Haaland dan Martin Ødegaard, nama Sander Berge kerap luput dari perhatian.

Padahal, gelandang bertahan berpostur 195 sentimeter itu merupakan jantung permainan Norwegia.

Berge menjadi penyeimbang yang memungkinkan Ødegaard bebas berkreasi dan Haaland menerima suplai bola dalam situasi terbaik. Ia piawai memutus serangan lawan, memenangkan duel udara, sekaligus memulai transisi dari lini belakang.

Kontribusinya memang sulit terlihat dalam statistik. Namun, hampir setiap kemenangan Norwegia selalu diawali dari ketenangan Berge dalam mengendalikan tempo pertandingan.

4. Vozinha (Cape Verde)

Usia Hanya Angka

Di usia 40 tahun, banyak kiper sudah pensiun.

Vozinha justru tampil sebagai simbol kejutan terbesar turnamen.

Penjaga gawang Cape Verde tersebut menjadi alasan utama negaranya mampu menembus fase gugur dan berkali-kali membuat lawan frustrasi lewat penyelamatan spektakuler.

Ia mungkin tidak membawa timnya menjadi juara.

Namun, perjalanan bersejarah Cape Verde tidak akan pernah terjadi tanpa refleks, kepemimpinan, dan pengalaman sang kapten di bawah mistar.

5. Neil El Aynaoui (Maroko)

Gelandang yang Menyatukan Dua Dunia

Maroko kembali menunjukkan kualitasnya sebagai salah satu kekuatan baru sepak bola dunia.

Di balik nama-nama yang lebih populer, Neil El Aynaoui tampil sebagai perekat permainan Atlas Lions.

Gelandang berusia 25 tahun itu menawarkan kombinasi yang langka: tenang saat menguasai bola, agresif ketika merebutnya kembali, serta cerdas dalam membaca ruang.

Ia menjadi penghubung antara lini belakang dan lini depan, membuat transisi Maroko berjalan lebih cepat sekaligus lebih rapi. Permainannya mungkin tidak banyak menghasilkan sorotan, tetapi justru menjadi fondasi yang membuat Maroko mampu bersaing dengan negara-negara elite.

6. Manzambi (Swiss)

Muncul Tanpa Banyak Gembar-Gembor

Swiss kembali menjadi salah satu tim yang sulit dikalahkan sepanjang Piala Dunia 2026. Di balik kedisiplinan kolektif mereka, muncul satu nama yang mulai mencuri perhatian: Manzambi.

Pemain muda tersebut tampil tanpa beban setiap kali mendapat kesempatan. Keberaniannya membawa bola, mobilitas tinggi, serta kemampuannya membuka ruang memberi dimensi baru bagi permainan Swiss.

Ia mungkin belum menjadi bintang utama, tetapi turnamen ini menjadi panggung yang memperkenalkan Manzambi kepada dunia. Jika mampu menjaga konsistensinya, Piala Dunia 2026 bisa dikenang sebagai awal lahirnya salah satu talenta terbaik Swiss.

7. Pau Cubarsí (Spanyol)

Bek 19 Tahun yang Bermain Seperti Veteran

Jarang ada bek remaja yang mampu tampil setenang Pau Cubarsí.

Di tengah tekanan turnamen terbesar dunia, ia memperlihatkan kualitas membaca permainan yang luar biasa.

Tak banyak melakukan tekel keras.

Tak banyak melakukan aksi heroik.

Namun hampir setiap keputusan yang diambil selalu benar.

Ia menjadi bukti bahwa filosofi Spanyol tidak hanya melahirkan gelandang hebat, tetapi juga bek yang mampu membangun serangan sejak bola pertama.

Bersama Aymeric Laporte, Cubarsí membentuk duet yang menjadi fondasi keberhasilan Spanyol menjuarai Piala Dunia 2026.

Lebih dari Sekadar Statistik

Piala Dunia selalu menghasilkan daftar pencetak gol, peraih assist terbanyak, atau pemain terbaik.

Namun, sepak bola tidak pernah sesederhana angka.

Ada pemain yang membuat rekan setimnya tampak lebih hebat. Ada yang menghilangkan ancaman sebelum sempat terlihat. Ada pula yang rela bekerja tanpa sorotan demi keseimbangan tim.

Piala Dunia 2026 kembali mengingatkan bahwa setiap trofi tidak hanya dibangun oleh para superstar, tetapi juga oleh para pekerja sunyi yang menjalankan perannya dengan sempurna.

Mungkin mereka tidak akan menjadi wajah utama turnamen. Namun, tanpa mereka, kisah-kisah besar yang lahir di Amerika Utara musim panas ini mungkin tidak akan pernah terjadi.*