AKARTA, CS – Sebanyak 27 negara dilaporkan telah mengaktifkan instrumen krisis Bank Dunia untuk memperoleh akses pendanaan cepat di tengah meningkatnya tekanan ekonomi global akibat konflik di Timur Tengah.
Berdasarkan dokumen internal yang dikutip sejumlah media, tiga negara telah menyelesaikan sekaligus memperoleh persetujuan atas instrumen pendanaan baru tersebut. Sementara itu, 24 negara lainnya masih berada dalam tahap pengajuan dan proses persetujuan.
Meski demikian, Bank Dunia tidak memberikan keterangan mengenai identitas negara-negara yang mengajukan fasilitas tersebut maupun total nilai pendanaan yang sedang diminta.
Laporan tersebut menyebutkan, 27 negara itu merupakan bagian dari 101 negara yang sebelumnya telah memiliki akses terhadap berbagai fasilitas pembiayaan kontinjensi yang disiapkan Bank Dunia untuk menghadapi situasi darurat.
Selain itu, sebanyak 54 negara juga tercatat mengikuti Rapid Response Option (Opsi Respons Cepat), sebuah mekanisme yang memungkinkan negara peserta menggunakan hingga 10 persen dari nilai pembiayaan Bank Dunia yang belum dicairkan untuk merespons kondisi krisis secara lebih cepat.
Presiden Bank Dunia, Ajay Banga, sebelumnya menyatakan bahwa perangkat pembiayaan krisis tersebut berpotensi membuka akses pendanaan senilai sekitar US$20 miliar hingga US$25 miliar bagi negara-negara yang memenuhi persyaratan.
Namun, dokumen yang beredar tidak merinci negara mana saja yang telah mengaktifkan fasilitas tersebut maupun besaran dana yang diajukan masing-masing negara.
Aktivasi instrumen krisis tersebut menunjukkan banyak negara mulai menyiapkan jalur pendanaan darurat sebagai langkah antisipasi menghadapi dampak lanjutan konflik geopolitik terhadap perekonomian, mulai dari gangguan perdagangan, kenaikan harga energi, hingga meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan.
Fasilitas pembiayaan kontinjensi Bank Dunia dirancang untuk mempercepat pencairan dana ketika terjadi keadaan darurat, sehingga pemerintah negara anggota dapat segera membiayai kebutuhan mendesak tanpa harus menunggu proses persetujuan pinjaman baru yang umumnya memerlukan waktu lebih lama. *


