NEW DELHI, CS – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menegaskan Iran siap menjamin keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz dan kembali menyatakan bahwa Teheran tidak pernah menginginkan senjata nuklir. Pernyataan itu disampaikan dalam Pertemuan Menteri Luar Negeri BRICS di New Delhi, India, pekan ini.

Dalam forum tersebut, Araghchi menyerukan penyelesaian diplomatik terhadap konflik di Timur Tengah dan memperingatkan dampak global apabila terjadi gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

“Selat Hormuz terbuka bagi semua kapal dagang,” kata Araghchi dalam pidatonya.

Ia juga menegaskan bahwa isu program nuklir Iran seharusnya diselesaikan melalui jalur perundingan, bukan eskalasi militer.

Abbas tiba di India, 13 Mei untuk mengikuti pertemuan BRICS selama dua hari. Dalam kesempatan tersebut, ia meminta negara-negara anggota BRICS mengecam tindakan militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Pernyataan Araghchi disampaikan bersamaan dengan kesaksian Komandan U.S. Central Command, Brad Cooper, di hadapan Komite Angkatan Bersenjata Senat Amerika Serikat.

Dalam keterangannya, Cooper menyebut serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel sejak 28 Februari telah menghancurkan lebih dari 85 persen basis industri pertahanan rudal balistik, drone, dan angkatan laut Iran. Selain itu, sekitar 82 persen sistem pertahanan udara Iran disebut telah rusak.

Menurut Cooper, kemampuan Iran untuk melancarkan serangan besar terhadap negara-negara tetangganya kini telah “berkurang drastis”, meski Teheran masih memiliki kemampuan terbatas untuk menyerang wilayah regional dan infrastruktur energi.

Ia juga menyatakan bahwa militer Amerika Serikat memiliki kemampuan untuk membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz dengan kekuatan apabila diperlukan.

Di tengah meningkatnya ketegangan, upaya diplomatik antara Washington dan Teheran masih menemui jalan buntu. Putaran pembicaraan langsung yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, pada 11 April dan dimediasi pemerintah Pakistan berakhir tanpa kesepakatan setelah berlangsung selama 21 jam.

Menurut laporan The New York Times, terdapat tiga isu utama yang menjadi hambatan dalam perundingan, yakni pembukaan kembali Selat Hormuz, status sekitar 400 kilogram uranium dengan pengayaan tinggi milik Iran, serta tuntutan Teheran atas aset senilai sekitar 27 miliar dolar AS yang dibekukan di luar negeri.

Iran dilaporkan menolak melanjutkan putaran negosiasi berikutnya karena menilai tuntutan Amerika Serikat tidak realistis.

Kebuntuan tersebut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas keamanan kawasan dan pasar energi global. Iran disebut masih memanfaatkan posisinya di Selat Hormuz sebagai alat tawar strategis, sementara Amerika Serikat tetap menuntut jaminan kebebasan navigasi sebelum tercapainya kesepakatan yang lebih luas. *