IRAN, CS – Eskalasi konflik di Timur Tengah terus meningkat setelah Iran dan Amerika Serikat (AS) saling melancarkan serangan yang kini memasuki lebih dari sepekan. Ketegangan tidak lagi terbatas pada wilayah Iran, tetapi telah meluas ke sejumlah negara di kawasan Teluk.
Laporan terbaru menyebut Iran memperluas serangan balasan dengan menargetkan sejumlah fasilitas dan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan, termasuk di Kuwait dan Bahrain. Sejumlah rudal dan drone dilaporkan juga mengarah ke wilayah sekitar Yordania, sementara beberapa negara Teluk mengaktifkan sistem pertahanan udara untuk mencegat serangan.
Media internasional juga melaporkan adanya serangan rudal balistik yang diklaim Iran menyasar fasilitas militer AS di kawasan Arab Saudi sebagai bagian dari respons terhadap operasi udara Washington yang terus berlanjut.
Konflik yang semakin meluas mulai berdampak pada aktivitas sipil. Sejumlah maskapai membatalkan atau mengalihkan rute penerbangan demi menghindari wilayah udara yang dinilai berisiko, sementara pemerintah di beberapa negara Teluk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan serangan lanjutan. Kekhawatiran juga muncul terhadap potensi gangguan jalur pelayaran dan distribusi energi di Kawasan.
Di sisi lain, pasar keuangan kawasan Teluk ikut tertekan. Bursa saham di beberapa negara mengalami pelemahan seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap meluasnya konflik dan dampaknya terhadap stabilitas ekonomi regional maupun pasokan energi global.
Hingga Minggu (19/7/2026), belum ada tanda-tanda kedua pihak akan menurunkan eskalasi. Amerika Serikat masih melanjutkan operasi militernya, sementara Iran menegaskan akan terus memberikan respons terhadap setiap serangan yang dianggap mengancam kepentingan dan wilayahnya. *


