Timnas Indonesia menghadapi laga penentuan melawan Singapura pada pertandingan terakhir Grup A Piala AFF 2026. Kemenangan menjadi harga mati bagi skuad Garuda jika ingin memastikan langkah ke babak semifinal.
Namun, di balik optimisme yang mengiringi performa Indonesia, tersimpan catatan yang patut diwaspadai. Sejarah menunjukkan bahwa setiap kali Indonesia dan Singapura berada dalam satu grup Piala AFF, hasil akhirnya kerap tidak berpihak kepada Merah Putih.
Sejak format grup diterapkan pada 1996, Indonesia dan Singapura sudah lima kali tergabung di grup yang sama. Dari lima kesempatan tersebut, Indonesia hanya sekali mampu melaju lebih jauh dibanding rivalnya itu.
Momen tersebut terjadi pada edisi 2004. Saat itu Indonesia sukses melangkah hingga final setelah menyingkirkan Malaysia di semifinal, meski akhirnya harus mengakui keunggulan Singapura yang keluar sebagai juara.
Di luar edisi tersebut, kisahnya justru lebih pahit bagi Indonesia.
Pada Piala AFF 1996, Indonesia memang berhasil lolos ke semifinal, tetapi Singapura mampu melangkah hingga partai puncak dan mengangkat trofi juara.
Situasi serupa kembali terulang pada edisi 2008. Indonesia gagal lolos dari fase grup, sedangkan Singapura melaju hingga semifinal.
Nasib yang sama kembali dialami pada 2012 dan 2021. Indonesia kembali tersingkir lebih awal, sementara Singapura mampu melangkah ke babak semifinal.
Rekor tersebut menjadi peringatan bahwa Singapura bukan lawan yang bisa dipandang sebelah mata, meski dalam beberapa tahun terakhir Indonesia dinilai memiliki kualitas skuad yang lebih baik.
Kini, skuad asuhan John Herdman memiliki kesempatan untuk mematahkan kutukan tersebut. Kemenangan atas Singapura bukan hanya akan membuka jalan menuju semifinal, tetapi juga mengakhiri tren negatif yang selama ini menghantui setiap pertemuan kedua tim di fase grup Piala AFF.
Laga Indonesia kontra Singapura diprediksi berlangsung sengit. Selain mempertaruhkan tiket ke semifinal, pertandingan ini juga menjadi kesempatan bagi Garuda untuk membuktikan bahwa sejarah buruk bukanlah sesuatu yang harus terus terulang.*


