NTT, CS – Sekitar 5.000 lebih warga terpaksa mengungsi setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Minggu (16/8/2026) sore menyebutkan, ribuan warga memilih meninggalkan rumah dan mencari tempat yang lebih aman menyusul gempa utama yang berpusat di Kabupaten Nagekeo dengan kedalaman 15 kilometer.
Pengungsian dilakukan warga di sejumlah wilayah terdampak karena aktivitas gempa susulan masih terjadi. BNPB mencatat, gempa utama tersebut telah memicu ratusan gempa susulan yang masih terus dipantau.
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah daerah bersama petugas kebencanaan masih melakukan pendataan terhadap warga terdampak sekaligus memastikan kebutuhan dasar para pengungsi terpenuhi.
Bencana gempa ini tidak hanya menyebabkan warga mengungsi. BNPB mencatat 53 orang meninggal dunia dan 135 orang mengalami luka-luka.
Korban meninggal tersebar di enam kabupaten, yakni Manggarai sebanyak 25 orang, Manggarai Timur 20 orang, Sikka empat orang, Ende dua orang, serta Manggarai Barat dan Nagekeo masing-masing satu orang.
Sementara korban luka tercatat di sejumlah wilayah. Di Manggarai Timur terdapat 21 orang luka berat dan 59 luka ringan. Kabupaten Manggarai mencatat 17 orang luka berat dan 20 luka ringan, Sikka 12 orang luka-luka, serta Manggarai Barat enam orang luka berat.
Meski jumlah korban cukup besar, hingga Minggu sore tidak ada warga yang dilaporkan hilang akibat bencana tersebut.
Pemerintah melalui Kementerian Sosial juga menyiapkan santunan tali asih sebesar Rp15 juta bagi setiap ahli waris korban meninggal dunia.
BNPB dan pemerintah daerah masih melakukan verifikasi serta pemutakhiran data di lapangan. Jumlah pengungsi, korban, maupun dampak kerusakan masih dapat berubah seiring proses pendataan berlangsung.
Warga yang berada di wilayah terdampak diimbau tetap waspada dan mengikuti arahan petugas, terutama mengingat gempa susulan masih terjadi.*


