SULTENG, CS – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) menyebut, bahwa Budidaya air tawar sistem Bioflok merupakan konsep budidaya ikan masa depan.

Sebab Bioflok adalah suatu sistem pemeliharaan ikan dengan cara menumbuhkan mikroorganisme yang berfungsi mengolah limbah budi daya itu sendiri, menjadi gumpalan-gumpalan kecil yang bermanfaat sebagai makanan alami ikan

“Kenapa saya bilang konsep budidaya masa depan, karena ke depan akan semakin meningkat permintaan terhadap ikan. Sistem bioflok hadir sebagai replikasi budidaya hemat air yang dikembangkan Kementerian Kelautan Perikanan,” ungkap Kepala Seksi Pengembangan Usaha Budidaya Dinas Kelautan Perikanan (DKP) Provinsi Sulteng, Budianto Somba, Rabu, 21 April 2021.

Budianto menyebut replikasi sistem bioflok bertujuan untuk pengembangan ketahanan pangan. Sistem bioflok bisa diterapkan untuk budidaya ikan nila, lele, patin, ikan mas dan lainnya.

Diketahui, DKP Provinsi Sulteng telah melaksanakan pelatihan budidaya air tawar sistem Bioflok melibatkan TNI/Polri dan pelaku perikanan budidaya pada Sabtu-Minggu, 27-28 Maret 2021. Pelatihan tersebut masuk tahun ke dua di daerah ini.

“Ini tahun kedua kami melakukan pembinaan, tahun lalu sudah, ini tahun kedua,” tandas Budianto.

Diberitakan sebelumnya, Kepala DKP Provinsi Sulteng, Moh Arif Latjuba, meminta semua pelaku perikanan budidaya agar terus mengedepankan penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dalam pengelolaan usaha budidaya ikan yang berkelanjutan.

“Kegiatan ini untuk meningkatkan sumber daya manusia dengan memberikan pelatihan mengenai teknologi budidaya ikan air tawar sistem Bioflok sehingga dapat mendukung peningkatan produksi perikanan dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Arif saat kegiatan pelatihan budidaya air tawar sistem Bioflok pada Sabtu-Minggu, 27-28 Maret 2021.

Kata dia, pemerintah juga tak akan berhenti untuk melakukan inovasi, terlebih adanya fenomena perubahan iklim, penurunan kualitas lingkungan global, dan pertambahan penduduk terus menjadi tantangan bersama yang tidak bisa dihindari.

Arif menjelaskan Bioflok bisa diartikan sebagai gumpalan (flok) dari berbagai campuran heterogen mikroba (plankton, protozoa, fungi ), partikel, polimen organik, koloid dan kaiton yang saling berinteraksi dengan sangat baik di dalam air.

Sistem Bioflok dikembangkan untuk meningkatkan pengendalian lingkungan dan yang memiliki permasalahan untuk mendapatkan air serta keterbatasan lahan, sehingga penerapannya akan lebih efektif. **