TEHERAN, CS – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Jumat menepis penilaian intelijen Amerika Serikat yang menyebut kemampuan rudal Iran melemah akibat serangan berbulan-bulan dari AS dan Israel. Ia justru mengklaim persenjataan rudal Teheran meningkat sejak perang dimulai dan menegaskan Iran “1.000 persen siap” mempertahankan diri.
Dalam unggahan di platform X, Araghchi secara langsung membantah laporan CIA yang menyatakan Iran masih memiliki sekitar 75 persen peluncur rudal bergerak dan 70 persen stok rudal sebelum perang.
Menurutnya, kapasitas persenjataan Iran kini justru meningkat.
“Inventaris rudal dan kapasitas peluncur kami tidak berada di angka 75 persen dibandingkan 28 Februari. Angka yang benar adalah 120 persen,” tulis Araghchi.
Sebelumnya, penilaian intelijen AS menyebut Iran berhasil membuka kembali sebagian besar fasilitas penyimpanan bawah tanah, memperbaiki rudal yang rusak, dan merakit senjata tambahan yang hampir selesai sebelum konflik pecah pada 28 Februari.
Araghchi juga menuduh Washington menggagalkan upaya diplomasi. Ia mengatakan setiap peluang penyelesaian diplomatik selalu direspons Amerika Serikat dengan tindakan militer.
“Setiap kali solusi diplomatik ada di meja, AS memilih petualangan militer yang gegabah,” tulisnya. Ia juga menegaskan bahwa rakyat Iran tidak akan tunduk terhadap tekanan asing.
Pernyataan tersebut muncul beberapa jam setelah pasukan AS dan Iran dilaporkan terlibat baku tembak di dekat Selat Hormuz pada Kamis malam.
Menurut Pentagon, kapal perusak Angkatan Laut AS yang meninggalkan kawasan Teluk diserang rudal, drone, dan kapal kecil Iran tanpa provokasi. Sebagai balasan, militer AS menyerang sejumlah instalasi militer Iran, termasuk pangkalan peluncur rudal dan pusat komando di Pulau Qeshm serta wilayah sekitar Bandar Abbas.
Sementara itu, media pemerintah Iran melaporkan adanya beberapa ledakan dan menyebut insiden tersebut sebagai baku tembak yang dipicu oleh “pihak musuh”.
Presiden AS, Donald Trump, meremehkan insiden tersebut. Dalam keterangannya kepada ABC News, Trump menyebut konfrontasi itu hanya sebagai “tepukan lembut” dan menegaskan gencatan senjata yang disepakati pada 7 April masih berlaku. *

