JAKARTA, CS – Harga emas mengalami penurunan pada perdagangan awal pekan hingga Selasa (22/4/2026), seiring meningkatnya ketidakpastian atas gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang menunjukkan tanda-tanda melemah menjelang batas waktu berakhirnya kesepakatan.
Berdasarkan laporan Reuters, harga emas spot sempat turun ke level terendah sejak 13 April, melemah hingga 0,8 persen ke sekitar 4.790 dolar AS per ons pada Senin (21/4), sebelum kembali stabil. Pada perdagangan awal Selasa di kawasan Asia, harga emas masih terkoreksi 0,2 persen ke 4.807,91 dolar AS per ons.
Tekanan terhadap emas dipicu oleh menguatnya dolar AS, kenaikan harga minyak mentah, serta meredanya harapan terhadap terobosan diplomatik dalam negosiasi AS–Iran.
Ketegangan kembali meningkat setelah Iran disebut kembali menutup Selat Hormuz, yang mendorong harga minyak mentah Brent naik 5,6 persen menjadi 95,48 dolar AS per barel pada Senin. Kenaikan harga energi tersebut memicu kekhawatiran inflasi, mendorong imbal hasil obligasi AS naik dan memperkuat dolar, sehingga menekan harga emas sebagai aset lindung nilai.
“Harga emas hari ini lebih rendah setelah gencatan senjata tampak mulai runtuh,” ujar Ilya Spivak, kepala makro global Tastylive, seperti dikutip Reuters. Ia menambahkan bahwa kenaikan harga minyak berdampak pada ekspektasi inflasi dan penguatan dolar AS.
Di pasar saham, indeks DAX Jerman ditutup melemah 1,2 persen ke 24.444 pada Senin, mencerminkan sentimen negatif investor terhadap perkembangan geopolitik. Namun, bursa Eropa sempat menguat pada awal perdagangan Selasa di tengah harapan lanjutan negosiasi.
Sementara itu, S&P 500 turun 0,2 persen dan Nasdaq Composite melemah 0,3 persen, menyusul ketegangan setelah AS menyita kapal kargo berbendera Iran yang diduga mencoba melanggar blokade.
Gencatan senjata dua minggu yang dimediasi Pakistan dan diumumkan pada 7 April oleh Presiden Donald Trump dijadwalkan berakhir pada Rabu (23/4/2026). Namun, peluang perundingan lanjutan masih belum pasti setelah adanya saling tuduh antara kedua pihak.
Kepala negosiator Iran, Mohammed Bagher Qalibaf, menegaskan bahwa Iran tidak akan melanjutkan perundingan selama blokade laut AS masih diberlakukan. Sementara itu, laporan The Associated Press menyebutkan ketidakpastian masih tinggi terkait kelanjutan dialog kedua negara.
Di tengah situasi tersebut, analis menilai pasar masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan bertahan pada skenario gencatan senjata. Namun, sebagian pihak memperingatkan bahwa ekspektasi optimistis sudah banyak tercermin dalam harga aset, sehingga risiko koreksi tetap terbuka. *

