Ada masa ketika kemerdekaan Indonesia belum sepenuhnya menjadi kenyataan di setiap jengkal tanah air. Proklamasi 17 Agustus 1945 telah dikumandangkan, tetapi di berbagai daerah, perjuangan untuk mempertahankannya masih berlangsung.
Di Sulawesi Selatan, salah satu nama yang kemudian melekat dalam sejarah perjuangan itu adalah Robert Wolter Mongisidi.
Ia bukan jenderal. Bukan pula pejabat tinggi republik. Ketika gugur, usianya baru 24 tahun. Namun, keberanian dan keteguhannya membuat namanya dikenang sebagai salah satu tokoh penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Mongisidi lahir di Malalayang, Manado, pada 14 Februari 1925. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya, Petrus Mongisidi, adalah seorang petani kelapa. Sejak muda, Robert dikenal cerdas dan memiliki kemampuan bahasa yang baik. Ia pernah belajar bahasa Jepang dan kemudian menjadi guru bahasa Jepang pada masa pendudukan Jepang.
Namun, jalan hidupnya berubah setelah Jepang menyerah dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.
Dari ruang kelas ke medan perjuangan
Saat kabar Proklamasi sampai kepadanya, Mongisidi berada di Rantepao, Tana Toraja. Ia kemudian menuju Ujung Pandang dan bergabung dengan gerakan pemuda yang mempertahankan kemerdekaan.
Di kota itu, perlawanan terhadap kembalinya Belanda berkembang. Para pemuda menyusun jaringan perjuangan, menyebarkan propaganda kemerdekaan, sekaligus menghadapi pasukan yang berusaha mengembalikan kekuasaan kolonial.
Mongisidi berada di tengah gerakan tersebut.
Ia tidak hanya dikenal karena keberaniannya, tetapi juga karena kemampuan membaca situasi. Kemampuan berbahasa Belanda, Inggris, dan Jepang membuatnya memiliki kelebihan dalam menjalankan berbagai tugas perjuangan. Dalam sejumlah operasi, ia bahkan mampu menyusup dan bergerak di wilayah yang dikuasai lawan.
Perlawanan itu kemudian tidak lagi sebatas gerakan pemuda di kota. Para pejuang bergerak ke berbagai wilayah Sulawesi Selatan dan membangun basis gerilya.
Pada 17 Juli 1946, sejumlah kelompok perjuangan bergabung dalam Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS). Ranggong Daeng Romo dipercaya sebagai panglima, sedangkan Mongisidi menjadi sekretaris jenderal yang turut mengatur operasi perjuangan.
Di titik inilah Mongisidi semakin dikenal Belanda.
Namanya menjadi simbol perlawanan pemuda Sulawesi Selatan.
Ketika perang berubah menjadi perburuan
Belanda tidak tinggal diam.
Operasi penangkapan terhadap para pejuang semakin diperketat. Situasi menjadi jauh lebih brutal ketika operasi militer yang dipimpin Raymond Westerling berlangsung di Sulawesi Selatan pada akhir 1946 hingga awal 1947. Operasi tersebut menimbulkan korban besar di kalangan penduduk dan meninggalkan salah satu episode paling kelam dalam sejarah revolusi Indonesia.
Di tengah tekanan itu, Mongisidi tetap bergerak.
Hingga akhirnya, pada 28 Februari 1947, ia tertangkap dan dimasukkan ke penjara Belanda. Penangkapan itu seharusnya menjadi akhir dari perlawanan seorang pemuda yang telah lama diburu.
Tetapi tidak bagi Mongisidi.
Dari penjara, ia berhasil melarikan diri bersama sejumlah rekannya. Sumber-sumber sejarah mencatat pelariannya terjadi sekitar delapan bulan setelah penangkapan. Ia kembali ke tengah perjuangan, tetapi kebebasan itu hanya berlangsung singkat. Sembilan hari kemudian, Belanda berhasil menangkapnya kembali.
Kali ini, Belanda tidak ingin mengambil risiko.
Mongisidi kembali dipenjara dan kemudian dihadapkan ke pengadilan kolonial.
Hukuman mati
Pada 26 Maret 1949, pengadilan kolonial menjatuhkan hukuman mati kepada Mongisidi.
Ada kesempatan baginya untuk meminta pengampunan. Bahkan keluarganya berusaha memohonkan grasi. Tetapi Mongisidi menolak.
Baginya, perjuangan tidak berhenti hanya karena hidupnya akan berakhir.
Ia memilih tetap setia pada cita-cita kemerdekaan yang diyakininya.
Dari balik penjara, Mongisidi banyak menulis. Ia menghadapi masa-masa terakhir hidupnya dengan keyakinan religius yang kuat. Salah satu pesan yang kemudian paling dikenal dari dirinya adalah:
“Setia hingga terakhir dalam keyakinan.”
Kalimat itu bukan sekadar penutup surat. Ia menjadi semacam ringkasan dari sikap hidup Mongisidi: bahwa keyakinan, bagi dirinya, harus tetap dipertahankan bahkan ketika konsekuensinya adalah kehilangan kehidupan.
Pagi terakhir di Pacinang
Pada 5 September 1949, Mongisidi dibawa menghadapi regu eksekusi di Pacinang, Makassar.
Indonesia pada saat itu masih berada dalam pergulatan diplomatik dan militer untuk memperoleh pengakuan penuh atas kemerdekaannya. Beberapa bulan kemudian, Konferensi Meja Bundar akan menghasilkan pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda.
Tetapi Mongisidi tidak sempat melihat hari itu.
Ia gugur pada usia 24 tahun.
Kisah mengenai saat-saat terakhirnya menggambarkan seorang pemuda yang tetap teguh menghadapi kematian. Sumber IKPNI mencatat bahwa ia menolak ditutup matanya dan membawa Injil ketika menghadapi eksekusi. Pesan terakhir yang ditulisnya adalah “Setia Hingga Terakhir dalam Keyakinan”.
Kematian tidak membuat perjuangannya selesai.
Justru dari sanalah nama Mongisidi memasuki ingatan kolektif bangsa.
Jasadnya kemudian dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Panaikang, Makassar, pada 10 November 1950. Lebih dari dua dekade setelah kematiannya, pemerintah Indonesia menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 088/TK/TH.1973 pada 6 November 1973.
Bukan sekadar kisah keberanian
Robert Wolter Mongisidi sering dikenang melalui satu gambaran: pemuda yang berdiri menghadapi regu eksekusi dengan keyakinannya.
Namun, warisannya jauh lebih besar daripada adegan terakhir itu.
Ia adalah gambaran tentang generasi yang hidup pada masa ketika kemerdekaan belum selesai diperjuangkan. Generasi yang tidak menikmati kemerdekaan sebagai sesuatu yang sudah tersedia, melainkan harus mempertahankannya dengan tenaga, pikiran, keberanian, bahkan kehidupan.
Mongisidi juga menunjukkan bahwa perjuangan tidak selalu dilakukan oleh mereka yang memiliki jabatan atau kekuasaan. Ia datang dari ruang pendidikan, dari kalangan pemuda, lalu bergerak ke tengah pergulatan sejarah.
Ia berumur 24 tahun ketika hidupnya berakhir.
Tetapi keyakinannya bertahan jauh lebih lama.
Pada akhirnya, mungkin itulah alasan nama Robert Wolter Mongisidi tetap relevan untuk dibaca kembali. Bukan untuk mengagungkan kematian, melainkan untuk memahami harga yang pernah dibayar sebuah bangsa agar kemerdekaan yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 tidak kembali menjadi sekadar kata-kata.
Di tengah zaman yang berubah, pesan terakhir Mongisidi masih terdengar sederhana:
Setia hingga terakhir dalam keyakinan.


