IRAN, CS – Sejumlah pejabat tinggi Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan dijadikan bahan negosiasi dalam upaya diplomatik dengan Amerika Serikat, meski Teheran telah menyampaikan proposal revisi melalui mediator Pakistan.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan di tengah perbedaan pandangan di internal kepemimpinan Iran mengenai langkah penyelesaian konflik yang berdampak pada perekonomian nasional dan meningkatnya angka pengangguran.
Wakil Ketua Parlemen Iran, Ali Nikzad, menyebut Selat Hormuz sebagai “bom atom Iran” yang mencerminkan kekuatan strategis negara tersebut.
Ia juga menegaskan bahwa pengayaan uranium hingga 60 persen menjadi simbol kekuatan Iran.
Menurut Nikzad, Ali Khamenei telah menginstruksikan bahwa Selat Hormuz tidak akan kembali ke kondisi sebelum konflik, menandakan perubahan permanen dalam kebijakan Iran terhadap jalur pelayaran strategis tersebut.
Selat Hormuz diketahui merupakan jalur vital yang dilalui sekitar seperlima distribusi minyak dunia, sehingga posisinya menjadi sangat krusial dalam geopolitik global.
Penegasan serupa disampaikan Imam Salat Jumat Teheran, Mohammad Javad Haj Ali Akbari, yang menyatakan bahwa Teluk Persia dan Selat Hormuz tidak dapat dinegosiasikan. Ia juga mengisyaratkan kemungkinan kerja sama dengan Oman dalam membentuk kerangka hukum pengelolaan jalur pelayaran tersebut.
Sementara itu, ulama terkemuka di Mashhad, Ahmad Alamolhoda, menilai bahwa negosiasi dengan Amerika Serikat sama dengan menyerah. Ia menyatakan Iran dapat mempertahankan kendali atas Selat Hormuz tanpa harus melakukan perundingan langsung dengan Washington.
Pernyataan-pernyataan tersebut mencerminkan sikap keras sebagian elit Iran dalam mempertahankan kendali atas jalur strategis, di tengah upaya diplomatik yang masih berlangsung untuk meredakan ketegangan. *


