KAIRO, CS – Hubungan bilateral Mesir dan Rusia terus menunjukkan penguatan di tengah perubahan peta geopolitik global, terutama setelah Mesir resmi bergabung dengan kelompok ekonomi BRICS pada awal 2025.

Kemitraan kedua negara yang telah terjalin sejak 26 Agustus 1943 kini berkembang tidak hanya pada sektor diplomatik dan militer, tetapi juga mencakup energi, infrastruktur, hingga koordinasi isu regional Timur Tengah.

Pengamat hubungan internasional dari Universitas Kairo, Dr. Ahmed Fouad, menilai bergabungnya Mesir ke dalam BRICS membuka ruang kerja sama yang lebih luas dengan Rusia, khususnya dalam bidang perdagangan dan investasi strategis.

“BRICS memberi Mesir peluang memperkuat diversifikasi mitra ekonomi global. Rusia menjadi salah satu aktor penting karena hubungan historis kedua negara sudah cukup kuat,” katanya, Jumat (29/5).

Hubungan Mesir dan Rusia sempat mengalami penurunan pada era Presiden Anwar Sadat ketika Mesir lebih dekat dengan Amerika Serikat. Namun, kerja sama kembali pulih pada masa Presiden Husni Mubarak dan terus berkembang hingga pemerintahan setelahnya.

Dalam sektor pertahanan, Rusia sejak lama menjadi salah satu pemasok utama persenjataan bagi Mesir. Kerja sama militer kedua negara kembali aktif sejak 2013 setelah sempat mengalami kevakuman selama puluhan tahun.

Selain bidang pertahanan, kolaborasi strategis juga terlihat pada proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir di Mesir yang dikerjakan bersama Rusia. Kerja sama tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam upaya Mesir memperkuat ketahanan energi nasional.

Sejarawan ekonomi Timur Tengah, Prof. Samir Hassan, mengatakan hubungan Mesir dan Rusia tidak dapat dipisahkan dari kontribusi besar Uni Soviet terhadap pembangunan industri Mesir pada abad ke-20.

“Uni Soviet berperan dalam pembangunan sejumlah proyek strategis Mesir, termasuk Bendungan Aswan, industri baja Helwan, dan pabrik aluminium. Fondasi kerja sama itu masih terasa hingga sekarang,” ujarnya.

Di tingkat regional, komunikasi diplomatik kedua negara juga terus berlangsung melalui pertemuan rutin Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov untuk membahas isu Gaza, Suriah, dan stabilitas kawasan Timur Tengah.

Penguatan hubungan kedua negara juga terlihat melalui diplomasi budaya dan olahraga. Pada 28 Mei 2026, Mesir dan Rusia bertemu dalam laga persahabatan internasional di Stadion Misr, Kairo, yang menjadi pertemuan pertama kedua tim sejak Piala Dunia 2018.

Meski demikian, analis geopolitik Timur Tengah dari Al-Ahram Center for Political Studies, Mahmoud Azab, menilai Mesir tetap akan menjaga keseimbangan hubungan dengan negara-negara Barat di tengah kedekatannya dengan Rusia dan BRICS.

“Mesir memiliki kepentingan ekonomi besar dengan sistem keuangan global Barat, sehingga pendekatan politik luar negerinya kemungkinan tetap pragmatis dan multidimensi,” katanya. *