GORONTALO, CS – Banjir bandang yang menerjang sejumlah wilayah di Provinsi Gorontalo mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. Namun, bagi ribuan warga terdampak, pekerjaan besar justru baru dimulai.

Sejak Sabtu (30/5/2026), masyarakat di kawasan terdampak terlihat bergotong royong membersihkan rumah, mengangkut lumpur, serta menyingkirkan tumpukan material kayu yang terbawa arus deras.

Penurunan intensitas hujan dalam beberapa hari terakhir membuat genangan air berangsur surut. Aktivitas warga yang sempat lumpuh perlahan kembali berjalan, meski jejak kerusakan masih terlihat di berbagai titik.

Di Kabupaten Gorontalo Utara, banjir sebelumnya merendam lima desa di Kecamatan Biau, yakni Desa Bualo, Didinga, Biau, Omuto, dan Luhuto dengan ketinggian air mencapai 100 hingga 250 sentimeter. Sementara di Kabupaten Bone Bolango, banjir melanda Desa Muara Bone dengan tinggi genangan antara 50 hingga 70 sentimeter.

Data sementara menunjukkan sedikitnya 529 kepala keluarga atau lebih dari 2.000 jiwa terdampak bencana tersebut. Selain merendam permukiman, banjir juga meninggalkan timbunan lumpur dan kayu di ratusan rumah warga. Bahkan satu unit rumah dilaporkan hanyut terbawa arus, meski seluruh penghuninya berhasil menyelamatkan diri dan kini tinggal sementara di rumah kerabat.

Meski kondisi mulai membaik, petugas belum menurunkan status kewaspadaan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama sejumlah instansi terkait masih menyiagakan personel di lokasi terdampak guna mengantisipasi kemungkinan banjir maupun longsor susulan.

Langkah tanggap darurat terus dilakukan melalui koordinasi lintas sektor. Tim BPBD dan Taruna Siaga Bencana (Tagana) tetap berada di lapangan untuk membantu warga serta memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi. Dapur umum juga masih beroperasi di Lapangan Atinggola guna mendukung kebutuhan pangan warga terdampak.

Di sisi lain, layanan air bersih menjadi perhatian utama pascabencana. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) telah menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat guna mencegah munculnya persoalan kesehatan akibat keterbatasan akses air layak konsumsi.

Selain kerusakan permukiman, dampak banjir turut mengganggu konektivitas wilayah. Sejumlah akses jalan desa sempat tertutup material longsor, termasuk ruas Jalan Trans Sulawesi yang menjadi jalur utama transportasi masyarakat. Upaya pembersihan dan normalisasi jalur terus dilakukan agar mobilitas warga dapat kembali berjalan normal.

Pemerintah daerah menetapkan status tanggap darurat bencana hingga 31 Mei 2026. Status tersebut memungkinkan percepatan penanganan di lapangan sekaligus memastikan bantuan dapat tersalurkan secara optimal kepada masyarakat yang membutuhkan.

BPBD mengingatkan warga agar tidak lengah meski kondisi cuaca mulai membaik. Potensi hujan dengan intensitas tinggi masih dapat terjadi dalam beberapa hari ke depan, sehingga risiko banjir dan longsor susulan tetap perlu diwaspadai.

Bagi warga terdampak, surutnya banjir memang menjadi kabar baik. Namun, proses pemulihan diperkirakan masih membutuhkan waktu, tenaga, dan dukungan berbagai pihak agar kehidupan masyarakat benar-benar kembali normal setelah diterjang bencana. *