BANGKOK, CS – Sejumlah maskapai penerbangan di kawasan Asia Pasifik mulai melakukan penyesuaian operasional menyusul lonjakan harga bahan bakar jet akibat konflik bersenjata yang melibatkan Iran.
Langkah tersebut dilakukan melalui pengurangan frekuensi penerbangan, penyesuaian jadwal operasional, hingga kenaikan biaya tambahan bahan bakar yang dibebankan kepada penumpang.
Laporan Associated Press menyebutkan maskapai besar seperti Vietnam Airlines, AirAsia, dan Cathay Pacific menjadi di antara operator yang terdampak langsung oleh kenaikan biaya operasional penerbangan. Lonjakan harga bahan bakar jet serta gangguan jalur penerbangan di kawasan Timur Tengah mendorong maskapai mengambil langkah efisiensi untuk menjaga keberlangsungan bisnis.
Cathay Pacific dilaporkan menaikkan biaya tambahan bahan bakar untuk penerbangan jarak jauh secara signifikan, sementara AirAsia meningkatkan biaya tambahan bahan bakar dan mengurangi kapasitas penerbangan sekitar 10 persen. Penyesuaian tersebut dilakukan seiring meningkatnya harga energi global dan terganggunya sejumlah rute penerbangan internasional akibat ketidakstabilan situasi keamanan di kawasan Teluk.
Gangguan operasional penerbangan dipicu oleh penutupan sebagian ruang udara di kawasan Timur Tengah dan terganggunya jalur distribusi energi global yang melewati Selat Hormuz. Kondisi tersebut menyebabkan biaya operasional maskapai meningkat sekaligus memperpanjang sejumlah rute penerbangan internasional.
Dampaknya mulai dirasakan sektor pariwisata di Asia Tenggara yang sangat bergantung pada konektivitas udara. Kenaikan harga tiket pesawat membuat biaya perjalanan internasional semakin mahal sehingga berpotensi mengurangi minat wisatawan untuk berkunjung ke destinasi-destinasi utama di kawasan.
Data Kementerian Pariwisata dan Olahraga Thailand menunjukkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Thailand pada April 2026 turun 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan terbesar terjadi pada wisatawan asal Timur Tengah yang merosot hingga 57 persen, sementara wisatawan dari Eropa turun hampir 16 persen.
Tekanan yang lebih besar dialami Kamboja. Di Siem Reap, kota yang menjadi gerbang utama menuju kompleks Candi Angkor, jumlah wisatawan domestik dan mancanegara tercatat turun 37,5 persen selama empat bulan pertama 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan kunjungan wisatawan berdampak langsung terhadap pendapatan masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor pariwisata. Siv Pech, seorang pengemudi tuk-tuk di Siem Reap, mengaku pendapatan hariannya turun dari sekitar 20 dolar Amerika Serikat menjadi hanya 5 dolar per hari akibat berkurangnya jumlah wisatawan.
Pelaku usaha restoran dan sektor jasa wisata lainnya juga menghadapi tekanan serupa. Kenaikan harga energi dan bahan baku membuat biaya operasional meningkat, sementara jumlah pelanggan terus menurun. Kondisi tersebut memaksa sebagian pelaku usaha menekan biaya operasional untuk mempertahankan kelangsungan usaha.
Selain berdampak pada industri penerbangan dan pariwisata, konflik Iran juga diperkirakan menekan pertumbuhan ekonomi kawasan Asia-Pasifik. Moody’s Analytics memperkirakan pertumbuhan ekonomi regional dapat berkurang antara 0,1 hingga 0,4 poin persentase sepanjang 2026 akibat meningkatnya harga energi, melemahnya konsumsi, dan berkurangnya aktivitas perjalanan internasional.
Bank Sentral Thailand bahkan telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini dengan mempertimbangkan pelemahan sektor pariwisata dan meningkatnya tekanan harga energi. Negara-negara yang menjadikan pariwisata sebagai sumber devisa utama dinilai menjadi pihak yang paling rentan terhadap dampak berkepanjangan konflik tersebut.
Pengamat energi dan ekonomi dari The Lantau Group, Jitsai Santaputra, menilai industri pariwisata kini menghadapi tantangan besar setelah sebelumnya terpukul pandemi COVID-19.
Menurutnya, kombinasi antara tingginya biaya perjalanan dan melemahnya permintaan wisata berpotensi memperlambat pemulihan sektor yang menjadi sumber mata pencaharian jutaan orang di Asia Tenggara. *


