PALU, CS – Perwakilan BKKBN Sulawesi Tengah (Sulteng), melalui Tim Kerja 3 menggelar edukasi Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) dan Cinta Rupiah bagi mitra kerja lintas sektor di Kantor Perwakilan BKKBN Sulteng, Kamis (4/6/2026).
Kegiatan ini menyoroti dua aspek utama penguatan keluarga, yakni peningkatan peran ayah dalam pengasuhan anak serta penguatan literasi keuangan dalam kehidupan rumah tangga sebagai bagian dari upaya membangun keluarga berkualitas dan berketahanan.
Kepala Perwakilan BKKBN Sulteng, Nuryamin, dalam sambutannya menegaskan bahwa keluarga merupakan fondasi utama dalam pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas. Ia menekankan pentingnya keterlibatan ayah secara aktif dalam proses pengasuhan anak.
Melalui Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), para ayah didorong tidak hanya berperan sebagai pencari nafkah, tetapi juga hadir dalam proses tumbuh kembang anak secara emosional maupun sosial.
Materi penguatan peran ayah juga disampaikan oleh Prof. Dr. K.H. Zainal Abidin, M.Ag, yang mengangkat konsep involved fatherhood dalam perspektif Islam.
Ia menjelaskan bahwa ayah memiliki peran yang lebih luas sebagai pendidik, pelindung, pembimbing, sekaligus teladan bagi anak dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, keterlibatan ayah yang ditunjukkan melalui kehadiran fisik, perhatian emosional, serta interaksi yang intens dapat berpengaruh langsung terhadap pembentukan karakter anak dan kualitas generasi mendatang.
Selain isu pengasuhan, peserta juga menerima edukasi Cinta Rupiah yang disampaikan oleh Tim Laskar Rupiah. Materi ini mencakup pengenalan ciri-ciri keaslian uang rupiah, kewaspadaan terhadap berbagai bentuk kejahatan keuangan, serta mekanisme pelaporan apabila masyarakat menemukan atau menjadi korban tindak pidana di sektor keuangan.
Edukasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan literasi finansial masyarakat agar lebih bijak dalam mengelola keuangan keluarga sekaligus mengurangi risiko terhadap kejahatan finansial.
Dalam sesi penutup, Prof. Zainal juga mengajak peserta menerapkan kebiasaan sederhana berupa 15 menit tanpa gawai setiap hari. Kebiasaan ini dinilai dapat memperkuat komunikasi dalam keluarga dan meningkatkan kualitas interaksi antara orang tua dan anak.
Ia menekankan bahwa kehadiran orang tua tanpa gangguan perangkat digital menjadi salah satu bentuk perhatian yang berdampak langsung pada keharmonisan keluarga.
Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat peran keluarga sebagai unit utama dalam pembangunan sosial, sekaligus mendorong terbentuknya keluarga yang lebih harmonis, berdaya, dan berketahanan. *


