PALU, CS – Universitas Tadulako (UNTAD) mempertegas perannya sebagai salah satu perguruan tinggi pelopor pengembangan literasi jaminan sosial di Indonesia melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan.
Kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman dan perlindungan jaminan sosial di lingkungan perguruan tinggi, sekaligus memperkuat sinergi antara dunia akademik dan penyelenggara jaminan sosial nasional.
Dalam kerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan, kedua pihak sepakat mengembangkan kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang berkaitan dengan program jaminan sosial ketenagakerjaan.
Sementara dengan BPJS Kesehatan, fokus kerja sama diarahkan pada implementasi Kurikulum Jaminan Sosial (Kurjamsos), peningkatan literasi jaminan sosial, serta pengembangan sumber daya manusia di sektor kesehatan dan perlindungan sosial.
Direktur Human Capital University BPJS Ketenagakerjaan, Harjono Siswanto, mengatakan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya jaminan sosial sejak dini.
Menurutnya, kerja sama tersebut tidak hanya membuka ruang kolaborasi akademik, tetapi juga memperluas cakupan perlindungan bagi berbagai elemen di lingkungan kampus, mulai dari dosen, tenaga kependidikan, tenaga pendukung, mahasiswa magang hingga peserta kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
“Kerja sama ini menjadi langkah awal yang penting dalam memperluas perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan di lingkungan kampus,” ujarnya.
Harjono juga mengapresiasi komitmen UNTAD yang telah memberikan perlindungan jaminan sosial kepada tenaga kontrak sejak 2017. Komitmen tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam penguatan budaya perlindungan sosial di lingkungan pendidikan tinggi.
Sementara itu, BPJS Kesehatan menempatkan UNTAD sebagai salah satu kampus perintis implementasi Kurikulum Jaminan Sosial di Indonesia. Bersama tiga perguruan tinggi lainnya, UNTAD menjadi bagian dari program percontohan yang mulai dijalankan sejak 2024.
Manager Pelaksanaan Pembelajaran BPJS Kesehatan, Tati Hartati Dewati, yang mewakili Kepala Corporate University BPJS Kesehatan, menyebut berbagai masukan dari UNTAD turut berkontribusi dalam penyempurnaan metode pembelajaran kurikulum tersebut.
Ia mengungkapkan, keberhasilan implementasi di empat kampus pelopor menjadi dasar perluasan Kurikulum Jaminan Sosial secara nasional pada 2026 bersama BPJS Ketenagakerjaan.
“Universitas Tadulako memiliki peran penting sebagai pionir dalam pengembangan literasi jaminan sosial bagi generasi muda,” katanya.
Rektor UNTAD, Prof. Dr. Ir. Amar, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng., menegaskan bahwa penandatanganan nota kesepahaman tersebut harus menghasilkan program nyata yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat maupun sivitas akademika.
Menurutnya, sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga penyelenggara jaminan sosial menjadi langkah strategis untuk memperkuat perlindungan sosial, mendukung pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya jaminan kesehatan dan jaminan sosial ketenagakerjaan.
UNTAD juga membuka peluang pengembangan kerja sama melalui penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik sebagai sarana edukasi publik mengenai perlindungan sosial.
“Kami berharap MoU ini segera ditindaklanjuti melalui program-program konkret yang berdampak langsung bagi masyarakat,” ujar Prof. Amar.
Melalui kolaborasi tersebut, UNTAD menargetkan terbangunnya kemitraan berkelanjutan yang mampu memperkuat kesejahteraan sivitas akademika, meningkatkan literasi jaminan sosial, serta mendukung lahirnya generasi Indonesia Emas 2045 yang sehat, produktif, dan terlindungi. *


