SIGI, CS – Ribuan warga terdampak gempa bumi magnitudo 6,7 yang mengguncang Kabupaten Sigi pada 16 Juni 2026 masih memilih bertahan di tenda darurat yang didirikan di sekitar rumah mereka.

Selain masih diliputi trauma, warga mengaku enggan meninggalkan rumah demi menjaga harta benda yang tersisa pascabencana.

Di Kecamatan Palolo dan Nokilalaki, sebagian besar warga terdampak membangun tenda mandiri di halaman rumah masing-masing. Mereka memilih tidak berpindah ke posko pengungsian terpusat agar dapat tetap memantau kondisi rumah dan barang-barang milik mereka.

Berdasarkan data yang dihimpun, sekitar 5.300 jiwa atau 1.300 kepala keluarga di wilayah Palolo dan Nokilalaki terdampak gempa. Sementara secara keseluruhan, jumlah warga terdampak di Kabupaten Sigi mencapai 6.412 jiwa atau 2.109 kepala keluarga.

Keputusan warga untuk tetap tinggal di tenda juga dipengaruhi oleh aktivitas gempa yang masih terjadi di Sulawesi Tengah. Pada Sabtu (20/6/2026), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mencatat tiga gempa berkekuatan kecil di wilayah Sulawesi Tengah.

Gempa pertama berkekuatan magnitudo 2,0 terjadi pukul 11.38 WIB di 34 kilometer timur laut Tolitoli dengan kedalaman 4 kilometer. Selanjutnya gempa magnitudo 2,3 terjadi pada pukul 11.40 WIB di 31 kilometer timur laut Sigi dengan kedalaman 5 kilometer. Kemudian gempa magnitudo 1,9 kembali tercatat pada pukul 11.51 WIB di 32 kilometer timur laut Sigi dengan kedalaman 5 kilometer.

Hingga saat ini, aktivitas kegempaan yang tercatat di Sulawesi Tengah telah mencapai 1.038 kejadian.

Dampak gempa M6,7 menyebabkan kerusakan cukup luas di Kabupaten Sigi. Sebanyak 1.652 unit rumah dilaporkan mengalami kerusakan, terdiri atas 1.472 rumah rusak ringan, 111 rumah rusak sedang, dan 69 rumah rusak berat.

Di Kecamatan Palolo, kerusakan dilaporkan terjadi di Desa Ampera dan Desa Lembantongoa. Di Desa Ampera, satu rumah dan satu gereja mengalami kerusakan, sementara di Desa Lembantongoa dua rumah dan satu gereja juga terdampak gempa.

Bencana tersebut mengakibatkan satu warga meninggal dunia di Desa Ampera. Selain itu, puluhan warga mengalami luka-luka, termasuk dua warga di Kecamatan Palolo.

Pemerintah Kabupaten Sigi telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari sejak 17 hingga 30 Juni 2026. Selama masa tanggap darurat, bantuan berupa makanan, air bersih, dan tenda darurat terus disalurkan kepada masyarakat terdampak.

Meski kebutuhan dasar mulai terpenuhi, sebagian warga masih memilih bertahan di tenda sambil menunggu kondisi benar-benar aman dan aktivitas gempa berangsur mereda.*