Kekalahan Prancis 0-2 dari Spanyol di babak semifinal Piala Dunia 2026 bukan sekadar mengubur mimpi Les Bleus mempertahankan supremasi sepak bola dunia. Kekalahan itu juga membuka kembali satu pertanyaan yang sejak awal turnamen terus bergulir, tetapi sengaja dikesampingkan karena hasil positif tim.

Mengapa N’Golo Kanté tidak pernah dimainkan?

Selama Prancis terus menang, keputusan Didier Deschamps nyaris tak tersentuh kritik. Publik menerima alasan stabilitas tim, efektivitas strategi, dan dominasi lini tengah yang diisi Aurelien Tchouaméni, Adrien Rabiot, Manu Koné, hingga Warren Zaïre-Emery. Filosofi “jangan mengubah tim yang sedang menang” tampak masuk akal.

Namun sepak bola tidak pernah berhenti pada hasil semata. Turnamen besar selalu menyisakan ruang untuk pertanyaan tentang keputusan-keputusan yang tidak pernah diuji.

Kante adalah salah satunya.

Ironisnya, gelandang yang pernah menjadi jantung permainan Prancis saat menjuarai Piala Dunia 2018 justru mengakhiri perjalanan menuju semifinal tanpa satu menit pun berada di lapangan. Ia hadir di bangku cadangan, tetapi seolah tidak pernah menjadi bagian dari rencana permainan.

Tentu Deschamps memiliki hak penuh menentukan siapa yang bermain. Pelatih melihat apa yang tidak dilihat publik. Latihan, kondisi fisik, kesiapan taktik, hingga keseimbangan tim merupakan pertimbangan yang tidak selalu tampak di layar televisi.

Namun, justru karena itulah keputusan untuk sama sekali tidak memainkan Kanté menjadi menarik diperdebatkan.

Apakah benar pemain berusia 35 tahun itu sudah tidak layak mendapat kesempatan? Ataukah Deschamps terlalu nyaman dengan formula yang selama ini bekerja sehingga kehilangan keberanian untuk mencoba alternatif ketika pertandingan menuntut sesuatu yang berbeda?

Pertanyaan itu semakin relevan setelah Prancis gagal mengatasi Spanyol.

La Roja tampil lebih cair, lebih agresif dalam transisi, dan mampu mengendalikan tempo permainan. Pada momen seperti itulah publik mulai bertanya-tanya: mungkinkah pengalaman, ketenangan, dan kemampuan membaca permainan ala Kanté justru menjadi pembeda?

Tidak ada yang bisa memastikan jawabannya.

Sepak bola bukan ilmu pasti. Memainkan Kanté belum tentu membuat Prancis lolos ke final. Tetapi tidak pernah memberinya kesempatan juga membuat publik tidak akan pernah mengetahui apakah pengalaman sang veteran masih mampu mengubah jalannya pertandingan.

Di sinilah kritik terhadap Deschamps menemukan pijakannya.

Seorang pelatih hebat bukan hanya mampu membangun sebelas pemain terbaik, melainkan juga tahu kapan mengubah keadaan ketika rencana utama mulai menemui jalan buntu. Fleksibilitas sering kali menjadi pembeda antara pelatih yang baik dan pelatih yang mampu memenangkan turnamen.

Sepanjang Piala Dunia 2026, Deschamps justru terlihat sangat percaya pada satu formula. Kepercayaan itu memang membawa Prancis hingga semifinal, tetapi sekaligus menutup pintu bagi kemungkinan lain yang mungkin saja lebih efektif ketika situasi berubah.

Yang membuat kisah ini semakin menyentuh adalah sikap Kanté sendiri.

Tidak ada keluhan. Tidak ada gestur kecewa. Tidak ada pernyataan kontroversial. Ia tetap tersenyum, mendukung rekan-rekannya, dan menjalankan perannya sebagai pemain senior dengan penuh profesionalisme. Sikap itu justru memperkuat simpati publik.

Di era ketika banyak pemain mudah menunjukkan ketidakpuasan, Kanté tetap menjadi dirinya sendiri: rendah hati, tenang, dan mengutamakan kepentingan tim di atas kepentingan pribadi.

Karena itulah, kekecewaan publik sesungguhnya bukan hanya tentang menit bermain. Ini adalah tentang penghormatan terhadap seorang pemain yang telah memberikan begitu banyak untuk negaranya.

Piala Dunia 2026 sangat mungkin menjadi turnamen besar terakhir Kanté bersama Timnas Prancis. Jika benar demikian, maka sangat disayangkan apabila perjalanan panjang seorang juara dunia berakhir tanpa satu pun kesempatan menginjakkan kaki di lapangan.

Deschamps mungkin tetap akan dikenang sebagai salah satu pelatih tersukses dalam sejarah Prancis. Namun, sejarah juga sering mengingat keputusan-keputusan kecil yang kemudian dipertanyakan ketika hasil akhirnya tidak sesuai harapan.

Apakah mengistirahatkan Kanté selama satu turnamen penuh merupakan keputusan yang tepat? Mungkin hanya Deschamps yang benar-benar mengetahui jawabannya.

Namun satu hal yang pasti, setelah Prancis gagal melangkah ke final, pertanyaan itu tidak lagi bisa dihindari. Dan bagi banyak pencinta sepak bola, Kanté bukan sekadar pemain yang tidak diturunkan. Ia menjadi simbol bahwa dalam sepak bola modern, pengalaman terkadang kalah oleh keyakinan pada sistem.

Kini Prancis hanya menyisakan satu pertandingan, perebutan tempat ketiga. Jika Kanté kembali hanya menjadi penonton dari bangku cadangan, bukan tidak mungkin publik akan mengenang Piala Dunia 2026 bukan hanya sebagai turnamen ketika Les Bleus gagal ke final, tetapi juga sebagai turnamen ketika salah satu gelandang terbaik dalam sejarah mereka mengakhiri kiprahnya tanpa sempat menyentuh rumput lapangan.

Oleh: Redaksi