CIBUBUR, CS – Kemajuan teknologi, khususnya kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI), membuat pembangunan manusia menjadi semakin penting. Kemampuan berpikir, beradaptasi, hingga membaca pola dinilai perlu dibentuk sejak usia dini agar generasi mendatang tidak sekadar menjadi pengguna teknologi.

Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie dalam kegiatan bersama Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI), Senin (31/8).

Stella menilai pembangunan negara tidak cukup hanya mengandalkan kemajuan teknologi maupun pembangunan fisik. Fondasi utama sebuah negara justru berada pada kualitas manusianya.

“Kalau kita mau membangun negara dan peradaban yang kuat, tentu saja yang paling harus dibangun adalah manusianya,” ujar Stella.

Menurut dia, perkembangan otak dan kemampuan berpikir manusia sangat dipengaruhi proses yang berlangsung sejak pendidikan anak usia dini (PAUD). Karena itu, pendidikan pada tahap tersebut memiliki posisi penting dalam membentuk kapasitas manusia di masa depan.

Kemampuan berpikir jadi bekal di era AI

Perkembangan AI membuat kemampuan mengingat informasi semata tidak lagi cukup. Stella menilai anak perlu dibekali kemampuan yang membuat mereka mampu memahami hubungan, mengenali pola, serta beradaptasi dengan perubahan.

Salah satu kemampuan yang dinilai penting adalah analogi atau kemampuan melihat struktur dan pola.

Stella menjelaskan kemampuan tersebut dapat menjadi salah satu fondasi bagi lahirnya pengetahuan baru. Anak yang terbiasa mengenali pola sejak dini dinilai memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan kemampuan berpikir yang dibutuhkan dalam bidang ilmu pengetahuan.

“Analogi, kemampuan melihat struktur inilah yang membuat ilmuwan menemukan ilmu baru,” jelasnya.

Karena itu, pendidikan anak usia dini tidak semestinya hanya dipandang sebagai tahap persiapan sebelum memasuki jenjang pendidikan formal berikutnya. PAUD juga menjadi ruang untuk membangun fondasi kemampuan berpikir dan belajar anak.

AI bukan pengganti kemampuan manusia

Di tengah semakin luasnya penggunaan AI, Stella mengingatkan agar teknologi tidak ditempatkan sebagai pengganti kemampuan berpikir manusia.

Sebaliknya, AI perlu dipandang sebagai bagian dari lingkungan belajar yang harus digunakan secara bijak. Anak tetap membutuhkan pengalaman langsung dengan lingkungan sekitar untuk mengembangkan kemampuan berpikir, belajar, dan beradaptasi.

Stella juga menekankan bahwa anak memiliki potensi yang besar sejak awal. Namun, perkembangan potensi tersebut sangat dipengaruhi lingkungan tempat mereka tumbuh dan belajar.

Karena itu, peran orang tua dan pendidik menjadi penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan anak.

Penggunaan perangkat digital pun perlu diperhatikan agar tidak mengurangi kesempatan anak untuk berinteraksi dengan lingkungan, bermain, belajar, dan mengembangkan kemampuan berpikir secara langsung.

“Penggunaan perangkat digital perlu ditempatkan secara bijak, agar tidak mengurangi kesempatan anak untuk berinteraksi, belajar, dan mengembangkan kemampuan berpikirnya melalui lingkungan sekitar,” kata Stella.

Pernyataan tersebut menempatkan pembangunan manusia sebagai bagian penting dari menghadapi perubahan teknologi. Ketika AI terus berkembang, kemampuan manusia untuk berpikir kritis, mengenali pola, belajar, dan beradaptasi justru menjadi semakin berharga.

Dengan demikian, pembangunan negara tidak hanya berbicara tentang seberapa cepat teknologi berkembang, tetapi juga seberapa kuat manusia dipersiapkan untuk menggunakannya.*