PALU, CS – Keterbatasan lahan tidak boleh menjadi alasan bagi kelurahan di Kota Palu untuk tidak berkontribusi dalam penguatan ketahanan pangan.
Pemerintah Kota Palu mendorong pemanfaatan teknologi pertanian, termasuk hidroponik, sebagai alternatif meningkatkan produksi pangan di tengah keterbatasan lahan.
Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid, mengatakan setiap kelurahan memiliki luas dan potensi lahan yang berbeda. Karena itu, pencapaian target Program Palu Mantap Pangan tidak harus mengandalkan satu hamparan lahan yang luas.
Hal tersebut disampaikan Hadianto saat memimpin rapat evaluasi Program Palu Mantap Pangan, di Rumah Jabatan Wali Kota Palu, Selasa (1/9/2026).
Evaluasi kali ini membahas perkembangan pelaksanaan program di Kecamatan Mantikulore dan Kecamatan Palu Selatan, khususnya terkait pemanfaatan lahan produktif dan penanaman lima komoditas unggulan yang menjadi fokus pemerintah kota.
Menurut Hadianto, terdapat kelurahan yang hanya memiliki lahan produktif sekitar 250 meter persegi, sementara kelurahan lainnya mampu menyediakan lahan hingga 2.500 meter persegi.
Perbedaan tersebut, kata dia, tidak seharusnya menghambat pelaksanaan program. Seluruh potensi lahan dapat dihitung secara akumulatif untuk mendukung pencapaian target.
“Ada yang memiliki lahan sekitar 250 meter persegi, ada juga yang sampai 2.500 meter persegi. Tidak harus sama. Yang penting seluruh potensi yang ada dimanfaatkan dan kita tetap berupaya mencapai target satu hektare secara akumulatif,” jelas Hadianto.
Selain pemanfaatan lahan terbuka, pemerintah kota mulai mengarahkan pengembangan pertanian berbasis teknologi sebagai solusi bagi wilayah yang memiliki keterbatasan ruang.
Hadianto mengatakan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palu telah merencanakan pembangunan warehouse hidroponik di Kelurahan Layana pada tahun mendatang.
Fasilitas tersebut diharapkan menjadi proyek percontohan pengembangan pertanian modern yang nantinya dapat direplikasi dalam skala lebih sederhana di wilayah lain.
“Kalau konsep ini berhasil, ke depan kita dapat mengembangkan hydroponic house yang lebih sederhana di wilayah-wilayah dengan keterbatasan lahan. Jadi, keterbatasan lahan tidak lagi menjadi hambatan untuk meningkatkan produksi pangan,” tuturnya.
Hadianto juga menegaskan fasilitas hidroponik yang telah dibangun di sejumlah kelurahan dapat diperhitungkan sebagai bagian dari potensi lahan produktif dalam Program Palu Mantap Pangan.
“Luas lahan tidak harus berupa satu hamparan yang besar. Kita bisa mengakumulasikan berbagai lahan yang tersedia, termasuk fasilitas hidroponik yang telah dibangun di kelurahan-kelurahan,” ungkapnya.
Evaluasi pelaksanaan Program Palu Mantap Pangan dilakukan secara bertahap di seluruh kecamatan. Sebelumnya, Pemkot Palu telah menerima laporan perkembangan dari Kecamatan Palu Utara dan Kecamatan Tawaeli.
Dalam evaluasi di Mantikulore dan Palu Selatan, pemerintah kecamatan dan kelurahan menyampaikan perkembangan pemanfaatan lahan serta pelaksanaan penanaman komoditas pangan yang menjadi sasaran program.
Rapat tersebut dihadiri Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palu, camat, lurah di Kecamatan Mantikulore dan Palu Selatan, serta sejumlah pihak terkait.
Melalui evaluasi berkelanjutan dan penerapan inovasi pertanian, Pemkot Palu menargetkan Program Palu Mantap Pangan dapat berjalan di seluruh wilayah dengan menyesuaikan karakteristik dan potensi masing-masing kelurahan. *


