PALU, CS – Universitas Tadulako (Untad) mendorong penguatan peran perguruan tinggi dalam mendukung proses hilirisasi agar manfaatnya tidak hanya berorientasi pada peningkatan nilai ekonomi sumber daya, tetapi juga dirasakan masyarakat.
Hal itu mengemuka dalam kegiatan bertajuk “Kolaborasi Nyata, Manfaat Merata” dengan tema “Menyelesaikan Hambatan Sosial dan Lingkungan, Mengoptimalkan Manfaat Hilirisasi” yang digelar di Aula Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Untad, Kamis (24/9/2026).
Kegiatan tersebut melibatkan unsur Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Satuan Tugas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional, serta unsur pendidikan tinggi dan sains.
Wakil Rektor Bidang Akademik Untad, Prof. Dr. Eng. Ir. Andi Rusdin, S.T., M.T., M.Sc., mengatakan perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam proses hilirisasi. Peran tersebut tidak hanya melalui pendidikan dan penelitian, tetapi juga penyediaan data, bukti ilmiah, inovasi, serta pendampingan kepada masyarakat.
Menurut Andi, Untad dapat mengambil peran sebagai knowledge hub melalui riset terapan, pemetaan persoalan, dan penyediaan bukti lapangan. Kampus juga dapat berperan sebagai independent evidence dengan menghadirkan analisis akademik yang transparan dan dapat diuji.
Selain itu, perguruan tinggi memiliki ruang untuk menjadi community interface melalui pendampingan masyarakat dan penguatan aspirasi berbasis bukti.
“Posisi perguruan tinggi bukan hanya sebagai tempat menghasilkan pengetahuan, tetapi juga menjadi penghubung antara pemerintah, industri, masyarakat, mahasiswa, dan akademisi. Karena itu, hasil riset harus dapat diterjemahkan menjadi solusi yang bisa dimanfaatkan,” kata Andi dalam kegiatan tersebut.
Untuk mendukung peran tersebut, kesiapan Untad diarahkan pada penguatan sumber daya manusia dan keilmuan, konsolidasi data dan laboratorium, penyesuaian kurikulum, penguatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan jejaring dan tata kelola.
Peran perguruan tinggi juga diarahkan pada pemberdayaan masyarakat melalui empat agenda, yakni pelatihan vokasi, penguatan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), advo-sains warga, serta diversifikasi ekonomi.
Pelatihan vokasi diarahkan untuk meningkatkan keterampilan dan sertifikasi masyarakat, termasuk di bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) serta metalurgi.
Sementara penguatan UMKM ditujukan untuk membantu pelaku usaha meningkatkan kapasitas dan memenuhi kualifikasi agar dapat masuk dalam rantai pasok industri.
Pada sisi masyarakat, Untad didorong melakukan pendampingan aspirasi sekaligus verifikasi ilmiah terhadap berbagai persoalan sosial dan lingkungan, termasuk melalui uji laboratorium.
Adapun diversifikasi ekonomi diarahkan pada pengembangan sektor pertanian terpadu dan perikanan guna mendukung kemandirian ekonomi masyarakat, termasuk dalam menghadapi kondisi pascatambang.
Melalui pendekatan tersebut, kolaborasi dalam proses hilirisasi diharapkan tidak berhenti pada peningkatan nilai ekonomi sumber daya alam, tetapi juga memperhatikan aspek sosial dan lingkungan, penguatan kapasitas masyarakat, serta keberlanjutan ekonomi daerah. *


