JAKARTA, CS – Prospek pemulihan produksi emas pada semester II-2026 dinilai menjadi sentimen positif bagi saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).
Kondisi tersebut mendorong analis mempertahankan rekomendasi beli seiring target ekspansi kapasitas produksi perseroan.
Dalam riset terbaru, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham BRMS dengan target harga Rp1.100 per saham, meningkat dari sebelumnya Rp1.080. Dengan harga saham di level Rp805, ruang kenaikan atau upside saham emiten tambang emas tersebut diperkirakan mencapai sekitar 36,6 persen.
BRI Danareksa menilai kinerja BRMS pada kuartal I-2026 masih sesuai ekspektasi pasar meskipun produksi sempat tertekan akibat aktivitas pit pushback di tambang River Reef. Perseroan mencatat laba bersih sebesar US$17,5 juta atau tumbuh 21,3 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Di sisi pendapatan, BRMS membukukan US$69,5 juta atau meningkat 9,7 persen yoy. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang kenaikan rata-rata harga jual emas meskipun volume penjualan mengalami penurunan selama periode tersebut.
Analis memperkirakan pemulihan produksi mulai terjadi pada Juni 2026 setelah proses pit pushback rampung. Penyelesaian pekerjaan itu diyakini akan membuka akses ke bijih dengan kadar emas lebih tinggi sehingga mendukung normalisasi produksi pada paruh kedua tahun ini.
Selain fokus pada pemulihan produksi, BRMS juga tengah mempercepat peningkatan kapasitas pabrik pengolahan emas milik CPM dari 500 ton per hari menjadi 2.000 ton per hari. Proyek ekspansi tersebut ditargetkan selesai pada Oktober 2026 dan diperkirakan mampu mendorong produksi emas perseroan melampaui 80 ribu ounce tahun ini.
Dalam jangka menengah, prospek BRMS dinilai tetap positif seiring pengembangan tambang bawah tanah yang ditargetkan mulai berkontribusi pada 2027. Proyek tersebut dipandang berpotensi menjadi sumber pertumbuhan produksi sekaligus memperkuat monetisasi aset perusahaan.
BRI Danareksa memproyeksikan laba bersih BRMS meningkat menjadi US$107 juta pada 2026, naik dibanding estimasi US$50 juta pada 2025.
Sementara pendapatan diperkirakan tumbuh menjadi US$353 juta dari proyeksi US$249 juta pada tahun sebelumnya.
Meski demikian, analis mengingatkan investor tetap mencermati sejumlah risiko, di antaranya potensi keterlambatan proyek, hasil pengeboran yang lebih rendah dari perkiraan, penurunan kadar emas, hingga pelemahan harga emas global. *

