JAKARTA, CS – PT Bumi Resources Minerals (BRMS) Tbk mengakui produksi emas di tambang Poboya, Kota Palu, Sulawesi Tengah mengalami penurunan pada kuartal pertama 2026 akibat aktivitas operasional di area tambang terbuka River Reef.
Direktur dan Chief Financial Officer BRMS, Charles Gobel, mengatakan penurunan produksi terjadi karena perusahaan tengah melakukan operasi pushback sebagai bagian dari proses pengembangan tambang.
“Produksi emas di kuartal pertama tahun ini mengalami penurunan akibat operasi pushback di area tambang terbuka River Reef, Poboya,” ujar Charles dalam keterangan resminya pekan lalu.
Berdasarkan laporan perusahaan, volume produksi emas yang dijual pada kuartal pertama 2026 tercatat sebesar 460 kilogram atau turun 32,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penjualan perak juga mengalami penurunan sebesar 32,15 persen secara tahunan menjadi 1.277 kilogram.
Meski produksi menurun, BRMS tetap mencatat peningkatan kinerja keuangan pada awal tahun ini. Perusahaan membukukan laba bersih sebesar US$18,05 juta atau naik 21,6 persen dibandingkan kuartal pertama 2025.
Kenaikan laba tersebut didukung lonjakan harga jual emas dan perak di pasar global. Harga jual emas BRMS tercatat meningkat menjadi US$4.512 per troi ons, sedangkan harga jual perak mencapai US$66,81 per troi ons.
Charles mengatakan peningkatan harga komoditas tambang masih mampu menopang pendapatan perusahaan di tengah turunnya produksi tambang.
BRMS juga menyatakan tetap optimistis target produksi dan penjualan emas sekitar 80 ribu troi ons hingga akhir 2026 dapat tercapai seiring rencana peningkatan kapasitas produksi pada pertengahan tahun ini. *

