PALU, CS – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) RI, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., mengkritik praktik penelitian perguruan tinggi yang hanya berhenti pada publikasi ilmiah dan prototipe tanpa memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan Fauzan saat meninjau kondisi kampus pascagempa sekaligus perkembangan pembangunan Nalodo Research Center di Universitas Tadulako (Untad), Minggu (21/6/2026).
Menurut Fauzan, perguruan tinggi harus mampu memastikan hasil riset yang dilakukan dapat diterapkan untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat, termasuk dalam bidang mitigasi bencana, pembangunan daerah, hingga peningkatan kesejahteraan.
“Riset harus berdampak. Jangan hanya berhenti pada jurnal atau prototipe. Hasil penelitian harus bisa dimanfaatkan masyarakat dan memberikan kontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan,” tegas Fauzan.
Ia menilai kampus memiliki sumber daya akademik yang besar dan tidak boleh berjalan sendiri. Karena itu, kolaborasi dengan pemerintah daerah, dunia industri, dan masyarakat menjadi kunci agar hasil penelitian dapat diimplementasikan secara luas.
Menurutnya, sinergi berbagai pihak akan menjadikan perguruan tinggi sebagai bagian dari solusi terhadap berbagai persoalan pembangunan yang dihadapi masyarakat.
“Kalau perguruan tinggi, pemerintah daerah, industri, dan masyarakat bisa bersinergi, maka kampus benar-benar menjadi bagian dari solusi berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat,” ujarnya.
Fauzan menjelaskan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi saat ini juga mendorong penguatan konsorsium perguruan tinggi. Melalui skema tersebut, kampus besar, menengah, dan kecil dapat saling berbagi sumber daya, pengalaman, serta memperkuat kolaborasi riset dan pengabdian kepada masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Fauzan turut menyoroti pembangunan Nalodo Research Center yang tengah berlangsung di Untad.
Menurutnya, fasilitas tersebut dapat menjadi contoh bagaimana hasil penelitian kampus diarahkan untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat, khususnya di wilayah rawan bencana.
Ia berharap pusat riset tersebut tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga melahirkan inovasi, rekomendasi kebijakan, dan edukasi yang dapat meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi gempa bumi.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerja Sama Untad, Dr.sc.agr. Ir. Aiyen, M.Sc., mengatakan pembangunan Nalodo Research Center saat ini telah mencapai progres fisik sekitar 65 persen. Jika memperhitungkan material yang telah tersedia di lapangan, progres pembangunan mencapai sekitar 96 persen.
Menurut Aiyen, pusat riset yang dirancang sejak 2023 itu akan menjadi pusat penelitian gempa dan mitigasi bencana yang dapat dimanfaatkan berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian.
“Targetnya selesai sesuai jadwal pada Oktober tahun ini. Total anggaran pembangunan gedung sekitar Rp75 miliar dan itu belum termasuk pengadaan peralatan,” katanya.
Selain mendukung kegiatan penelitian, Nalodo Research Center juga akan dibuka sebagai sarana edukasi publik melalui berbagai fasilitas simulasi dan pembelajaran kebencanaan. Kehadiran pusat riset tersebut diharapkan memperkuat kontribusi Untad dalam pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. *


