Warning: Undefined variable $args in /home/channels/public_html/wp-content/themes/satuwp/inc/shortcode-bacajuga.php on line 56

Warning: Undefined variable $args in /home/channels/public_html/wp-content/themes/satuwp/inc/shortcode-bacajuga.php on line 56

Ketika Jepang melumat Tunisia 4-0 di Piala Dunia 2026 dan sebelumnya mampu mengimbangi Belanda, banyak yang menyebut Samurai Biru sebagai “kuda hitam”. Namun bagi mereka yang mengikuti perkembangan sepak bola Jepang selama tiga dekade terakhir, tidak ada yang mengejutkan dari pencapaian tersebut.

Apa yang disaksikan dunia hari ini bukanlah ledakan dari satu generasi emas, melainkan hasil dari proyek jangka panjang yang dimulai lebih dari 30 tahun lalu.

Jepang tidak membangun tim nasional. Mereka membangun sebuah ekosistem.

Awal 1990-an menjadi titik balik. Saat itu Jepang menyadari bahwa mereka tidak akan pernah mampu bersaing dengan negara-negara elite jika hanya mengandalkan bakat. Pada 1993, lahirlah J.League, liga profesional yang bukan sekadar kompetisi, melainkan fondasi pembangunan sepak bola nasional.

Setiap klub diwajibkan memiliki akar di komunitasnya, mengembangkan akademi, dan berinvestasi pada pembinaan pemain muda. Fokusnya sederhana, tetapi membutuhkan kesabaran: menghasilkan pemain berkualitas secara terus-menerus, bukan sekadar mengejar gelar dalam waktu singkat.

Dua belas tahun kemudian, Federasi Sepak Bola Jepang (JFA) mengambil langkah yang saat itu terdengar nyaris mustahil. Dalam deklarasi jangka panjangnya pada 2005, JFA memasang target menjadi juara Piala Dunia pada tahun 2050.

Banyak yang menertawakannya.

Namun bagi Jepang, target bukanlah janji politik. Target adalah kompas yang menentukan arah setiap kebijakan.

Mereka kemudian membangun sistem pembinaan yang seragam dari kelompok usia dini hingga tim nasional senior. Anak-anak tidak dididik untuk menjadi juara turnamen usia muda, melainkan menjadi pemain profesional yang cerdas secara teknik, taktik, dan mental ketika memasuki usia emas.

Di saat banyak negara masih mengukur keberhasilan dari trofi kelompok umur, Jepang justru mengukur keberhasilan dari berapa banyak pemain yang berhasil menembus level tertinggi.

Hasilnya mulai terlihat dalam satu dekade terakhir.

Semakin banyak pemain Jepang berkarier di liga-liga elite Eropa. Nama-nama seperti Kaoru Mitoma, Takefusa Kubo, Wataru Endo, Daichi Kamada, hingga Zion Suzuki bukan lagi pengecualian, melainkan produk dari sistem yang terus bekerja.

Mantan pelatih Jepang, Philippe Troussier, pernah mengatakan bahwa tantangan terbesar sepak bola Jepang bukanlah kemampuan teknik, melainkan menghilangkan rasa inferior saat menghadapi negara-negara besar. Perlahan, mentalitas itu berubah.

Jika dahulu Jepang datang ke Piala Dunia dengan harapan tidak dipermalukan, kini mereka datang dengan keyakinan mampu mengalahkan siapa pun.

Perubahan itu terlihat jelas dalam beberapa edisi terakhir Piala Dunia. Jepang tak lagi sekadar menjadi peserta. Mereka mampu mengalahkan tim-tim elite seperti Jerman dan Spanyol pada 2022, dan kini kembali tampil meyakinkan di Piala Dunia 2026 dengan permainan yang disiplin, cepat, dan kolektif.

Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa sepak bola modern tidak lagi hanya ditentukan oleh besarnya populasi atau kekuatan finansial. Yang jauh lebih menentukan adalah konsistensi membangun sistem.

Di era ketika banyak federasi tergoda mencari jalan pintas dengan mengganti pelatih setiap kali gagal atau mengejar solusi instan, Jepang memilih sesuatu yang jauh lebih sulit: bersabar.

Mereka memahami bahwa trofi tidak dimenangkan pada hari pertandingan. Trofi dimenangkan bertahun-tahun sebelumnya, ketika seorang anak mulai berlatih di akademi, ketika pelatih muda mendapatkan pendidikan yang benar, dan ketika federasi tetap berpegang pada rencana meski hasil belum terlihat.

Tiga puluh tahun lalu, Jepang menanam pohon yang bahkan tidak bisa mereka nikmati saat itu.

Hari ini, dunia sedang menyaksikan buahnya.

Dan mungkin, itulah pelajaran terbesar yang bisa dipetik banyak negara, termasuk Indonesia: sepak bola hebat tidak dibangun oleh satu pelatih, satu presiden federasi, atau satu generasi pemain. Sepak bola hebat lahir dari keberanian untuk membangun sistem, lalu menjaga arah itu selama puluhan tahun.