JAKARTA, CS – Langkah Indonesia untuk menjadi pemain kunci dalam rantai pasok kendaraan listrik (electric vehicle/EV) global kian mendekati kenyataan. PT Vale Indonesia Tbk menjadwalkan operasional (startup) fasilitas pengolahan nikel berteknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) di Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, pada Agustus 2026.
Proyek bernilai investasi fantastis ini diproyeksikan menjadi salah satu tulang punggung utama dalam pembentukan ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi di Tanah Air.
Kolaborasi Strategis Bernilai Rp 80 Triliun
Proyek HPAL Pomalaa berada di kawasan Indonesia Pomalaa Industrial Park (IPIP) dan melibatkan kemitraan lintas negara. PT Vale Indonesia menggandeng dua raksasa industri global, yaitu pabrikan otomotif asal Amerika Serikat, Ford Motor Co., serta penyedia teknologi nikel asal Tiongkok, Zhejiang Huayou Cobalt.
Total nilai investasi untuk pengembangan smelter raksasa ini mencapai US$ 4,5 miliar atau sekitar Rp 80,6 triliun (dengan asumsi kurs Rp 17.911 per US$).
Kapasitas Produksi Dua Kali Lipat
Poin penting dari proyek ini mencakup beberapa aspek utama:
- Kapasitas Produksi: Smelter ini dirancang mampu memproduksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) hingga 120 kiloton (120.000 ton) per tahun. Angka ini hampir dua kali lipat dari kapasitas operasional Vale saat ini.
- Bahan Baku Utama: Produk MHP merupakan komponen antara yang sangat krusial dalam pembuatan prekursor dan katoda baterai EV.
- Magnet Investasi Hilir: Kawasan IPIP didesain agar anchor plant ini dapat menarik investor lanjutan untuk mengolah MHP hingga menjadi komponen baterai siap pakai.
“Jika tidak ada halangan, bulan Agustus ini siap untuk di-startup. Ini adalah cikal bakal ekosistem terintegrasi baterai salah satu yang ada di Indonesia,” ujar Chief Sustainability & Corporate Affairs Officer PT Vale, Budiawansyah, dalam agenda Grand Seminar HIPMI di Jakarta, Kamis (6/8/2026).
Komitmen Hilirisasi Berkelanjutan
Selain di Pomalaa (Sulawesi Tenggara), PT Vale Indonesia juga menggarap proyek berteknologi HPAL di dua lokasi lain, yakni Morowali (Sulawesi Tengah) dan Sorowako (Sulawesi Selatan).
Langkah ini mempertegas komitmen perusahaan dalam mendukung agenda hilirisasi industri mineral yang dicanangkan pemerintah. Vale berfokus memastikan seluruh rantai pasok (mulai dari penambangan hulu hingga pengolahan bahan baku baterai di hilir) berjalan secara bertanggung jawab, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.*


