NGADA, CS – Ribuan pemukiman warga dilaporkan mengalami kerusakan parah setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT). Wilayah Kabupaten Ngada menjadi daerah yang mencatatkan dampak kerusakan fisik paling masif hingga saat ini.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama BPBD setempat masih terus mengumpulkan dan memverifikasi data di seluruh titik terdampak. Berdasarkan informasi terbaru, kerusakan bangunan tidak hanya menimpa rumah tinggal warga, tetapi juga menyasar sejumlah infrastruktur umum seperti sarana kesehatan, tempat ibadah, fasilitas pendidikan, hingga akses jalan.

“Rincian kerusakan rumah di wilayah Kabupaten Nagekeo terdiri dari 116 unit rumah rusak berat, 6 unit rumah rusak sedang, dan 42 unit rumah rusak ringan,” ujar Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam keterangan resminya.

Berton memaparkan bahwa dampak kehancuran juga meluas ke beberapa wilayah lain, termasuk Kabupaten Ende, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, hingga Sikka. Sementara itu, untuk Kabupaten Ngada saja, angka kerusakan telah menembus 1.796 unit rumah dan masih terus diverifikasi oleh tim di lapangan.

Untuk merespons bencana ini, Pemerintah Provinsi NTT telah memberlakukan Status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi selama dua pekan, terhitung sejak 15 hingga 28 Agustus 2026. Hingga saat ini, tercatat 68 korban jiwa meninggal dunia dan 213 warga mengalami luka-luka.

Guna menangani para korban, operasi pertolongan medis darurat dan pendirian rumah sakit lapangan terus dioptimalkan. Ratusan personel gabungan dari Basarnas beserta ribuan potensi SAR diturunkan penuh, mendampingi masyarakat di tengah guncangan gempa susulan yang tercatat sudah terjadi lebih dari 1.500 kali.*