PALU, CS – Kepala Dinas Kominfo, Persandian dan Statistik Provinsi Sulawesi Tengah, Faridah Lamarauna, mengajak masyarakat agar tetap disiplin 3 M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak) sambil menunggu vaksin diedarkan.

Itu karena berdasarkan data up date data dan curve evindemic kasus laporan kasus positif/negatif, kabupaten/kota dan Penanganan Covid-19 Provinsi Sulawesi Tengah yang diterbitkan oleh Pusdatina Covid-19 Provinsi Sulawesi Tengah periode 9 November 2020, menunjukkan bahwa kumulatif kasus terkonfirmasi Covid-19 sudah menembus angka 1.047 orang terkonfirmasi dengan 769 orang (73,45%) sembuh dan 42 orang (4,01%) meninggal dunia.

“Saat ini di Sulawesi Tengah sudah 42 orang meninggal karena Covid-19. Bayangkan betapa kita semua bersedih karena ditinggalkan keluarga tercinta karena Covid-19. Oleh karena itu tetap disiplin 3M ditambah 3T (testing, tracing, dan treatment) serta lakukan vaksinasi Covid-19 ketika vaksin siap,” ujar Faridah, Senin, 10 November 2020.

Faridah menyebut tingginya harapan masyarakat kepada pemerintah agar segera mewujudkan vaksin covid-19 tentunya bisa dipahami. Tak bisa dipungkiri seluruh aktivitas masyarakat tidak dapat dilakukan secara maksimal karena pandemi Covid-19 masih menghantui.

Harapan tersebut tentunya sudah mulai menunjukkan titik terang karena uji klinis calon vaksin Covid-19 oleh perusahaan farmasi dari China telah berjalan satu bulan dengan melibatkan 1,620 relawan dan sejauh ini tidak ditemukan laporan efek samping yang signifikan.

Walaupun hasil uji klinis tersebut tidak serta merta dapat disimpulkan bahwa calon vaksin sudah dapat langsung digunakan karena harus memperhatikan banyak aspek. Bahkan Presiden Joko Widodo disebut telah mengeluarkan pernyataan bahwa dalam hal penyediaan vaksin COVID-19 harus dipastikan keamanannya dan efektivitasnya dan jangan tergesa-gesa.

Mengutip pernyataan Prof. Dr. dr. Soedjatmiko, Sp.A(K), Anggota Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional dari ITAGI, Faridah, di Palu, Selasa 10 November 2020 mengatakan, uji klinis vaksin Sinovac telah melalui beberapa tahapan.

Pertama, uji klinik fase 1 vaksin Sinovac yang dilakukan di Tiongkok pada 143 orang dewasa dengan tujuan menilai keamanan, hasilnya hanya ada sedikit keluhan dari subjek. Dikarenakan uji klinik fase 1 terbukti aman maka oleh badan-badan yang mengawasi uji klinik vaksin Covid-19 mengizinkan untuk dilakukan uji klinik fase 2.

Kedua, uji klinik fase 2 dilakukan terhadap 600 orang dewasa untuk menilai 2 hal, yaitu keamanan dari vaksin Sinovac dan hasilnya terbukti aman, efek yang timbul hanya ada nyeri di bekas suntikan dan itu merupakan hal yang wajar. Kemudian fase 2 menilai imunogenisitas dari vaksin tersebut. Hasilnya setelah dua kali disuntik dengan dosis rendah yakni 3 mikrogram dengan jarak 14 hari, terlihat mampu meningkatkan kekebalan / antibodi pada 92 persen subjek.

Kemudian dengan jarak 28 hari dapat meningkatkan antibodi 97 persen subjek, dan kadar antibodi NAB sekitar 23.8 – 65.4 padahal dibutuhkan minimal 8. Setelah fase 2 terbukti aman, dan mampu meningkatkan maka oleh badan-badan yang mengawasi diizinkan melanjutkan ke fase 3.

Ketiga, berdasarkan informasi dari tim riset uji klinik vaksin Covid-19 pada uji klinik fase 3 di Bandung sudah dilakukan terhadap 1.620 orang dan 1.570 orang diantaranya telah disuntik dua kali dan sampai sekarang tidak ada keluhan ketika kontrol pada hari ke 3 ke 14 dan ke 28. Tujuan dari uji klinik fase 3 sama, yakni uji keamanan, hasilnya terbukti aman dan pada beberapa orang hanya ditemukan keluhan nyeri dan demam.

Dia menambahkan bahwa tahapan berikutnya adalah uji kekebalan yang ditimbulkan dengan cara mengukur kadar antibodi didalam darah sebelum dan sesudah dua kali imunisasi. Keseluruhan hasil ini rencananya akan dilaporkan awal Januari 2021.

“Hal yang perlu diketahui oleh masyarakat bahwa uji klinik vaksin Sinovac di Indonesia (Bandung) seperti halnya di negara lain diawasi oleh banyak badan pengawas yaitu BPOM, Data Safety Monitor Board (DSMB) dan Komite Etik FK Unpad. Hal ini perlu dilakukan untuk memastikan keamanan dan efektivitas dari vaksin tersebut,” ucap Faridah.

Saat ini, Pemerintah melalui Lembaga Bio Molekuler (LBM) Eijkman tengah mengembangkan vaksin merah putih. Vaksin tersebut murni buatan dalam negeri yang dibuat menggunakan strain Covid-19 Indonesia. Tahapan pengembangannya saat ini sudah mencapai 50 persen.

Setelah uji klinis 3 tahapan tersebut dilakukan, dan BPOM menyatakan bahwa vaksin merah putih aman digunakan, maka vaksin virus tersebut siap diproduksi massal. Rencananya, pada triwulan IV tahun depan, vaksin virus corona dari dalam negeri akan diproduksi massal. Vaksin ini juga akan melengkapi vaksin hasil kerjasama dengan Sinovac dari China dan G42 dari UEA.

“Kita semua berharap agar vaksin Covid-19 segera dapat diwujudkan karena tidak dapat dipungkiri hanya dengan vaksin kita dapat memutus total rantai penyebaran Covid-19,” pungkas Faridah. (MIC/HSM)