PALU, CS – Kepala Dinas Kominfo, Persandian dan Statistik Provinsi Sulawesi Tengah, Faridah Lamarauna, mengungkapkan pemerintah melalui kebijakan menjaga jarak yang salah satu wujud implementasinya di pemerintahan yaitu work from home (WFH) atau bekerja dari rumah.
Dengan kebijakan tersebut Aparatur Sipil Negara (ASN) yang sudah terbiasa bekerja selama 5 hari dalam seminggu dan minimal 8 jam setiap hari. Menurut Faridah, kebijakan tersebut dapat dipahami karena dengan WFH diharpkan dapat menghindari kerumunan di kantor untuk mencegah munculnya klaster perkantoran.
Menurut Kepala Dinas Kominfo, Persandian dan Statistik Provinsi Sulawesi Tengah Faridah Lamarauna menyampaikan bahwa kebiasan baru berupa WFH maka yang hadir di kantor setiap sekitar 25% dari jumlah seharusnya. Jadi jika ada 100 ASN dalam satu kantor maka yang hadir dikantor untuk bekerja sekitar 25 orang sisanya bekerja dari rumah.
“Hanya saja kebiasaan baru yang sedang dijalankan melalui WFH, tentunya membawa implikasi bagi ASN untuk tetap di rumah sehingga mengurangi pergerakan fisik bahkan cenderung malas bergerak,” ungkap Faridah, Selasa, 17 November 2020.
Secara umum, aktivitas kebiasaan baru yang sedang dijalankan sebagian besar masyarakat pada masa pandemi Covid-19, dapat berisiko jika tidak dibarengi dengan pola hidup yang sehat. Salah satunya duduk dan rebahan terlalu lama saat bekerja dari rumah.
“Duduk terus menerus, dan melihat laptop atau komputer membuat mata bisa capek. Rapat yang dilakukan terus sampai malam, juga dapat menimbulkan stress. Apalagi jika kemudian mengakibatkan kurang tidur. Tensi bisa naik, lalu bisa jadi timbul penyakit pencernaan, penyakit lambung, karena mungkin makan juga tidak teratur,” ujar dr. Vito Anggarino Damay, Junior Doctor Network, dalam dialog produktif dengan tema “Awasi Penyakit Tidak Menular untuk Tetap Produktif dan Aman COVID-19” di Media Center Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Senin, 9 November 2020.
Dia menambahkan, malas bergerak juga dapat mengakibatkan obesitas, dan naiknya kolesterol. Namun berbagai risiko tersebut bisa dicegah dengan banyak bergerak.
“Kuncinya adalah bagaimana kita bergerak. Kalau kita bergerak, maka imunitas bisa meningkat. Karena imunitas ini terdiri dari sel-sel kekebalan tubuh. Sel-sel kekebalan tubuh ini lancar kalau sirkulasi lancar, maka pompa jantung kita baik.”, terang dr. Vito.
Pemeriksaan kondisi kesehatan tubuh juga tetap perlu dilakukan secara rutin di masa pandemi ini.
“Jadi, kadang-kadang karena kita takut ketularan COVID-19, kita mengabaikan pemeriksaan rutin ke rumah sakit, dan ini memperburuk kondisi kesehatan yang ada. Akhirnya penyakit-penyakit tidak menular lainnya bermunculan,” ungkap dr. Reisa Broto Asmoro, Jubir Satgas Covif-19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru dalam forum yang sama.
Di Kota Palu, masyarakat tetap banyak melakukan aktifitas olah raga, walaupun intensitasnya tidak serutin sebelum masa pandemi. Misalnya hampir setiap Sabtu dan Minggu aktivitas bersepeda sangat banyak dilakukan olah masyarakat baik secara individu maupun berkelompok, senam kebugaran, bermain bulutangkis, berjemur di pagi hari, mengkonsumsi asupan yang baik, serta menjalankan protokol kesehatan secara disiplin, menjadi kebiasaan kolektif dan berpeluang manjadi budaya pola hidup bersih dan sehat.
“Karena itu, Work From Home, atau gerakan dirumah saja, tak boleh menghalangi aktivitas fisik. Karena berolahraga dapat dikemas dengan baik, sederhana dan menyenangkan, baik didalam maupun diluar rumah,” pungkas Faridah. (HSM/MIC)


