LONDON, CS – Bursa saham Eropa ditutup melemah tajam pada perdagangan Jumat setelah kebuntuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasar energi global dan perlambatan ekonomi dunia.
Indeks STOXX Europe 600 turun 0,8 persen ke level 611,27 pada awal perdagangan dan sempat melemah hingga 1,4 persen ke posisi 607,70 pada pertengahan sesi pagi. Pelemahan tersebut menempatkan indeks pan-Eropa itu di jalur penurunan mingguan.
Sejumlah indeks utama Eropa turut mengalami tekanan. DAX Jerman turun antara 1 persen hingga 1,7 persen, sementara CAC 40 Prancis melemah hingga 1,4 persen. Indeks IBEX 35 Spanyol juga mengalami penurunan serupa.
Di Inggris, FTSE 100 turun hingga 1,3 persen di tengah meningkatnya ketidakpastian politik setelah Perdana Menteri Keir Starmer menghadapi tekanan internal terkait kepemimpinannya.
Sektor teknologi menjadi salah satu yang paling tertekan dengan penurunan sekitar 3 persen setelah sebelumnya menguat dalam dua sesi perdagangan berturut-turut. Saham perusahaan semikonduktor mengalami pelemahan paling tajam.
Saham ASML, ASM International, BE Semiconductor, dan Aixtron tercatat turun antara 3,4 persen hingga 7,3 persen.
Di sektor material, indeks saham pertambangan Eropa anjlok 4,3 persen. Saham Antofagasta dan Fresnillo masing-masing turun 6,1 persen dan 5,7 persen seiring melemahnya harga logam mulia.
Sektor perbankan juga mengalami tekanan dengan penurunan sekitar 2 persen. Saham Barclays dan Lloyds termasuk di antara saham yang paling banyak dilepas investor.
Tekanan pasar terjadi bersamaan dengan lonjakan harga minyak mentah dunia. Harga minyak Brent dilaporkan menembus 109 dolar AS per barel atau naik hampir 8 persen dalam sepekan akibat terganggunya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran 105 dolar AS per barel.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan pernyataan yang berbeda terkait Selat Hormuz. Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menyebut Amerika Serikat tidak membutuhkan jalur tersebut tetap terbuka. Namun, dalam pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing, ia menyatakan bahwa Washington menginginkan Selat Hormuz tetap terbuka.
Di sisi lain, International Energy Agency memperingatkan bahwa gejolak pasar minyak global masih berpotensi berlanjut karena cadangan minyak dunia terus menurun sejak konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran meningkat pada 28 Februari lalu.
Kekhawatiran investor juga dipicu oleh peringatan pemerintah Jerman terkait perlambatan ekonomi. Kementerian Ekonomi Federal Jerman menyatakan pertumbuhan ekonomi negara itu kemungkinan akan mengalami tekanan signifikan pada kuartal kedua akibat dampak konflik Iran terhadap harga energi dan rantai pasok global.
Pemerintah Jerman sebelumnya telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 menjadi 0,5 persen dari sebelumnya 1 persen, sekaligus menaikkan perkiraan inflasi menjadi 2,7 persen.
Sementara itu, dolar Amerika Serikat menguat ke level tertinggi dalam 18 hari terakhir setelah meningkatnya spekulasi bahwa Federal Reserve berpotensi kembali menaikkan suku bunga menyusul tekanan inflasi dan kenaikan harga energi global. *

