TOUNA, CS – Sebanyak 455 Penyuluh Keluarga Berencana/Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PKB/PLKB) dari seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah (Sulteng) mengikuti Jambore Ikatan Penyuluh Keluarga Berencana (IPeKB) Sulteng III di Marina Beach Cottage, Kabupaten Tojo Una-Una, Rabu (29/7/2026).

Kegiatan yang mengusung tema “Satukan Langkah Wujudkan SULTENG Nambaso” tersebut menjadi momentum memperkuat kapasitas, kolaborasi, dan sinergi penyuluh KB dalam mendukung pembangunan keluarga serta percepatan penurunan stunting di Sulteng.

Kabupaten Parigi Moutong tercatat sebagai kontingen dengan jumlah peserta terbanyak dalam pelaksanaan jambore tahun ini. Selain diikuti para penyuluh KB, kegiatan tersebut juga melibatkan sekitar 1.000 remaja dalam edukasi kesehatan reproduksi, perencanaan kehidupan berkeluarga, dan isu kependudukan.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Sulteng, Herry Mulyadi, mengatakan jambore menjadi ruang strategis untuk memperkuat inovasi dan jejaring kerja para penyuluh KB dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan keluarga.

“Tojo Una-Una yang kaya akan potensi bahari, budaya, dan semangat kebersamaan menjadi simbol bahwa pembangunan keluarga harus menjangkau seluruh wilayah Sulawesi Tengah tanpa terkecuali,” kata Herry saat membacakan sambutan Gubernur Sulawesi Tengah pada pembukaan jambore.

Menurut Herry, jambore tidak hanya menjadi ajang pertemuan antarpenyuluh, tetapi juga wadah bertukar pengalaman, berbagi inovasi, memperkuat jaringan kerja, serta melahirkan gagasan baru yang mampu menjawab tantangan pembangunan keluarga di masa depan.

Sementara itu, Kepala Perwakilan BKKBN Sulteng, Nuryamin, menegaskan peran penyuluh KB sebagai ujung tombak pembangunan keluarga di daerah sangat penting dalam mendukung berbagai program kependudukan.

Ia mengapresiasi capaian Kabupaten Tojo Una-Una yang berhasil menurunkan prevalensi stunting hingga 16,5 persen, angka yang berada di bawah rata-rata Sulawesi Tengah sebesar 26,1 persen.

“Keberhasilan Tojo Una-Una menekan stunting hingga 16,5 persen, jauh di bawah rata-rata Sulawesi Tengah sebesar 26,1 persen, membuktikan kerja lapangan yang solid mampu menghasilkan perubahan nyata,” ujar Nuryamin.

Menurutnya, capaian tersebut harus menjadi motivasi bagi kabupaten dan kota lainnya untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah, penyuluh KB, tenaga kesehatan, serta seluruh pemangku kepentingan dalam percepatan penurunan stunting dan pembangunan keluarga.

Selain kegiatan penguatan kapasitas penyuluh, Jambore IPeKB Sulteng III juga diisi dengan kegiatan sosial. Panitia bersama sejumlah mitra menyalurkan delapan unit jamban sehat, bantuan sosial kepada 10 keluarga berisiko stunting, serta bantuan sarana air bersih dari PT Harsen Laboratories.

Dukungan lainnya juga diberikan melalui bantuan jamban dari PT Kimia Farma Trading and Distribution dan Bank Syariah Indonesia, serta bantuan lemari pendingin dari PT Intisumber Hasil Sempurna.

Asisten III Bidang Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Tojo Una-Una, Alimuddin Muhammad, yang mewakili Bupati Tojo Una-Una, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan menjadikan daerah tersebut sebagai tuan rumah Jambore IPeKB Sulawesi Tengah III.

Menurutnya, kehadiran ratusan penyuluh KB dari seluruh wilayah Sulteng menjadi momentum memperkuat kerja bersama dalam menghadapi berbagai tantangan kependudukan, mulai dari stunting, pernikahan usia dini, hingga persoalan sosial lainnya.

“Jambore ini diharapkan menjadi pedoman dan inspirasi bagi seluruh kabupaten dan kota untuk memperkuat kerja bersama dalam meningkatkan kualitas keluarga,” katanya. *