BREBES, CS – Penerapan Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PM-AAS) berhasil meningkatkan produktivitas padi di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.
Hasil ubinan pada panen di Desa Kedungneng, Kecamatan Losari, Selasa (4/8/2026), mencapai 10,43 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hektare atau hampir dua kali lipat dibandingkan rata-rata produktivitas petani setempat yang selama ini berkisar 5 hingga 6 ton per hektare.
Capaian tersebut menjadi salah satu hasil penerapan paket teknologi PM-AAS yang mengintegrasikan penggunaan varietas unggul, mekanisasi pertanian, pemupukan berimbang, pengelolaan air, hingga pendampingan budidaya secara intensif.
Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), Fadjry Djufry, mengatakan PM-AAS merupakan strategi modernisasi pertanian yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi usaha tani.
“Pilot project yang kami lakukan di berbagai daerah menunjukkan hasil yang sangat menjanjikan. Karena itu tahun ini PM-AAS mulai diperluas di seluruh Indonesia dengan target penerapan mencapai satu juta hektare. Harapannya, produktivitas meningkat dan pendapatan petani ikut terdongkrak,” kata Fadjry, melalui rilis, Kamis (6/8/2026).
Menurutnya, seluruh komponen teknologi dalam PM-AAS saling terintegrasi, mulai dari penggunaan varietas unggul spesifik lokasi, mekanisasi, pengelolaan hara dan air yang tepat, hingga pendampingan kepada petani secara berkelanjutan.
Program tersebut merupakan bagian dari kebijakan Kementerian Pertanian dalam mempercepat modernisasi pertanian untuk mendukung peningkatan produksi pangan nasional.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman sebelumnya menegaskan PM-AAS telah melalui proses penelitian dan pengujian selama hampir dua tahun dengan hasil yang mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan.
Keberhasilan penerapan PM-AAS juga dirasakan langsung oleh petani. Setia, petani asal Desa Kedungneng, mengaku awalnya ragu menerapkan metode budidaya yang berbeda dari kebiasaan selama ini. Namun setelah melihat perkembangan tanaman hingga masa panen, ia mengaku yakin untuk kembali menerapkannya.
“Alhamdulillah hasilnya bagus. Awalnya saya tidak percaya karena biasanya cara saya bertani tidak seperti ini. Tapi semakin hari pertanamannya tumbuh semakin bagus, dan ke depan Insya Allah saya mau lanjut lagi,” ujarnya.
Hasil panen tersebut diperoleh melalui penerapan teknologi budidaya secara terpadu, mulai dari sistem tanam jajar legowo, pemupukan berimbang, hingga pengelolaan irigasi berselang atau Alternate Wetting and Drying (AWD).
Asisten II Sekretaris Daerah Kabupaten Brebes, Ineke Tri Sulistyowaty, menilai modernisasi pertanian menjadi kebutuhan untuk menjawab tantangan pembangunan sektor pertanian ke depan.
“Kami percaya bahwa masa depan pertanian tidak cukup hanya mengandalkan kerja keras, tetapi juga harus didukung oleh inovasi, teknologi, kolaborasi, dan kelembagaan petani yang kuat,” katanya.
Sementara itu, Kepala BRMP Jawa Tengah, Arif Surahman, mengatakan penerapan PM-AAS di wilayahnya akan terus diperluas. Hingga September 2026, luas penerapan program tersebut di Jawa Tengah ditargetkan mencapai 138.284 hektare sebagai bagian dari target nasional satu juta hektare lahan padi.
Selain penyediaan alat dan mesin pertanian, BRMP Jawa Tengah juga telah meningkatkan kapasitas sekitar 4.000 petani dan 300 aparatur melalui pelatihan, pendampingan, serta penguatan penerapan teknologi di lapangan.
Arif menegaskan, keberhasilan PM-AAS tidak hanya diukur dari meningkatnya hasil panen, tetapi juga dari semakin tingginya kemampuan petani mengadopsi teknologi budidaya modern secara mandiri guna mendukung swasembada pangan yang berkelanjutan. *


