JAKARTA, CS – Pemerintah berencana merombak total cetakan buku pelajaran untuk siswa tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) di Indonesia. Kebijakan ini diambil setelah Presiden Prabowo Subianto menyoroti langsung kualitas fisik hingga kenyamanan baca pada buku teks yang digunakan siswa saat ini.

Alasan Utama Perubahan Kualitas Buku

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo mendapati sejumlah masalah teknis saat mengecek langsung buku-buku pelajaran milik para siswa.

Menurut Teddy, Presiden memperhatikan beberapa aspek penting:

  • Ukuran Tulisan Terlalu Kecil: Ukuran huruf yang kecil memaksa anak-anak—terutama tingkat SD—membaca dari jarak yang sangat dekat, yang dinilai kurang baik untuk kesehatan mata.
  • Kualitas Bahan yang Rendah: Banyak fisik buku yang ditemukan mudah rusak atau bahkan sudah dalam kondisi rusak saat dipakai.

“Beliau lihat satu per satu, kemudian kok ada yang bahannya mudah rusak, ada yang sudah rusak juga. Tulisannya kecil-kecil, sehingga anak-anak SD khususnya bacanya sangat dekat,” terang Teddy.

Desain Buku Tulis Khusus untuk Siswa SD

Selain buku cetak pelajaran, pemerintah juga menyoroti kebiasaan menulis para siswa. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa pemerintah berencana mendesain buku tulis khusus bergaris besar untuk siswa kelas 1 hingga 3 SD.

Langkah ini diambil guna mengoreksi kecenderungan anak-anak zaman sekarang yang terbiasa menulis dengan ukuran terlampau kecil.

Mengurangi Ketergantungan Gadget

Prasetyo menegaskan, dorongan untuk kembali mengoptimalkan buku fisik dan kebiasaan menulis tangan bukan bentuk kemunduran. Justru, hal ini mengadopsi tren di berbagai negara maju Eropa yang mulai membatasi penggunaan gawai (gadget) di lingkungan sekolah.

Manfaat utama dari pendekatan ini meliputi:

  1. Melatih kemampuan fisik dan kognitif dalam menulis tangan.
  2. Menekan tingkat ketergantungan anak terhadap layar gawai.
  3. Membangun karakter dan rasa percaya diri siswa melalui interaksi langsung dengan media fisik.

Fokus Strategis Pendidikan Nasional

Perbaikan sarana belajar ini merupakan bagian dari perhatian khusus Presiden Prabowo pada sektor pendidikan strategis. Selain membenahi fasilitas fisik dan media belajar, pemerintah juga memfokuskan pengembangan pada tiga pilar utama:

  1. Penguatan Karakter Kebangsaan: Membentuk fondasi moral dan rasa cinta tanah air.
  2. Peningkatan Sains dan Teknologi: Memperkuat penguasaan materi dasar seperti matematika untuk mengejar ketertinggalan global.
  3. Penguasaan Bahasa Asing: Mendorong pemahaman bahasa Inggris sebagai modal utama generasi muda dalam menghadapi kompetisi internasional.

melalui langkah-langkah terstruktur ini, pemerintah berharap kualitas pembelajaran di Indonesia dapat meningkat secara merata, baik dari segi sarana fisik maupun mutu kurikulum.*